Pasukan Sekutu Masuk, Libya Bisa Jatuh dalam Konflik Sektarian

Pasukan Sekutu Masuk, Libya Bisa Jatuh dalam Konflik Sektarian

- detikNews
Minggu, 20 Mar 2011 16:14 WIB
Jakarta - Pasukan sekutu gabungan dari Amerika Serikat (AS), Prancis, Inggris, Kanada dan Italia mulai menyerang Libya. Masuknya pasukan sekutu ini dikhawatirkan akan membuat Libya seperti Irak, jatuh dalam konflik sektarian karena ada kekosongan kekuasaan.

"Apabila Inggris, Prancis dan Amerika masuk akan menjadi permasalahan. Seperti di Irak mereka masuk, kemudian mereka melibas kekuatan dari seluruh tentara yang ada akhirnya terjadi kekosongan, ini akan menjadi permasalahan," ujar peneliti Timur Tengah dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hamdan Basyar.

Hal itu disampaikan Hamdan saat ditanya tentang pasukan sekutu yang menyerang Libya, di sela-sela diskusi yang diadakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Acara berlangsung di Wisma Antara, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Minggu (20/3/2011).

Pemimpin Libya Muammar Khadafi, imbuh Hamdan, pernah meminta Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama agar tidak mencampuri urusan dalam negeri Libya. Permintaan Khadafi itu dinilai untuk menurunkan tekanan terhadap Libya.

Memang kebijakan politik AS di bawah kepemimpinan Obama tak segegabah George W Bush. Namun tetap saja, masuknya AS membuat Libya tak akan bernasib jauh seperti Irak.

"Pelajaran dari Irak ini mestinya berharga juga. Ketika mereka berusaha ingin demokratisasi yang terjadi malah kekosongan sehingga rakyatnya berantem terus. Ini dikhawatirkan Libya juga akan seperti itu. Jadi ada perang antara masyarakat kalau Khadafi segera turun," jelasnya.

Di memprediksi perang tentara sekutu dengan Libya ini akan memakan waktu lama. Karena tergantung kekuatan oposisi dan militer, seperti dengan yang terjadi di Mesir.

"Karena Khadafi terus menggunakan kekuatannya dan tentara bayaran untuk mendukung kekuasannya. Di dunia internasional dia berusaha mendekati AS, tapi di dalam dia menekan pemberontak kemudian juga berusaha merangkul terus kekuatan militer, ini seperti di Mesir. Ketika militer tidak membela Mubarak dan akhirnya Mubarak turun," jelasnya.

(nwk/lh)


Berita Terkait