Gajah Mengamuk, Ratusan Hektar Kebun Kelapa Sawit Hancur
Selasa, 01 Jun 2004 15:54 WIB
Pekanbaru -
Karena habitatnya terusik, puluhan gajah di kawasan hutan alam Tesso Nilo di Kabupaten Pelalawan Riau, mengamuk. Serangan gajah itu membuat ratusan hektar kebun kelapa sawit milik warga hancur berantakan.Penduduk Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan kini mulai resah. Daerah pemukiman mereka kita tak nyaman lagi. Lebih dari 150 hektar perkebunan kelapa sawit warga, porak poranda. Tanaman kelapa sawit yang baru berumur 4 sampai 6 tahun itu kini tercabut akibat serangan gajah."Kami tidak bisa berbuat banyak selain menatap kebun sawit kami yang hancur diserang gajah. Akibat amuk gajah, kami terpaksa harus menanam ulang kembali. Sebab semua pohon sawit kami telah rusak karena diserang gajah," keluh Arman (45) salah seorang warga, kepada detikcom, Selasa (1/6/2004) di Pekanbaru, didampingi LSM Tropika.Menurut Arman, serangan gajah itu terjadi dalam dua hari terakhir ini. Diperkirakan gajah liar itu berasal dari kawasan hutan alam Tesso Nilo. Biasanya gajah-gajah liar itu memasuki perkampungan atau areal perkebunan milik warga pada malam hari. Bila gajah-gajah liar itu telah keluar dari habitatnya, maka warga sendiri tidak berdaya untuk mengusirnya.Gajah itu datang biasanya pada malam hari. Tapi warga sendiri tidak berani untuk mengusirnya. "Dalam satu malam itu, puluhan hektar kebun kami rata dengan tanah. Kami hanya bisa pasrah," keluh Arman.Direktur LSM Tropika Harijal Jalil menyatakan, amuk gajah di perkampungan itu tidak lain disebabkan habitat gajah yang terus terusik dari lajunya praktek pembalakan haram di hutan Tesso Nilo. Tiga tahun silam, kawasan hutan Tesso Nilo yang dijuluki hutan terkaya di dunia itu luasnya mencapai 153.000 hektar. Tapi kini hutan itu hanya tersisa 33.000 hektar."Luas kawasan itu terus berkurang karena banyaknya pratek illegal logging. Hasil kayu itu dibawa ke pabrik pengolahan kayu (sawmill). Kita perkirakan di sekitar kawasan hutan itu berdiri 55 sawmill liar yang siap menampung hasil kayu curian," papar Harijal.LSM Tropika yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup ini memperkirakan di kawasan Tesso Nilo sedikitnya terdapat 40 sampai 50 ekor gajah liar yang hidup secara berkelompok. Menyempitnya habitat gajah tersebut, dengan sendirinya gajah-gajah liar itu mencari makan hingga ke pemukiman penduduk.Untuk menyelamatkan kawasan Tesso Nilo serta gajah liar itu, menurur Harijal, sejumlah LSM lingkungan dan pemerintah daerah telah mengusulkan kepada pemerintah pusat agar Tesso Nilo dijadikan kawasan taman nasional. Sebab, kata Harijal, dengan statusnya menjadi taman nasional pengawasannya bisa lebih diperketat lagi. Selain itu pemerintah juga bisa memberikan sanksi yang kuat terhadap para penebang-penebang liar."Sejak tiga tahun lalu pemerintah daerah didukung LSM lingkungan telah mengusulkan kawasan hutan alam Tesso Nilo bisa ditingkatkan statusnya menjadi kawasan taman nasional. Namun hingga kini, belum ada keputusan dari Menteri Kehutan," jelas Harijal.Masih menurut Harijal, untuk mengatasi serangan gajah liar itu, kini Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Dinas Kehutanan Provinsi Riau telah menempatkan empat ekor gajah jinak di sekitar perkebunan. Gajah-gajah yang telah terlatih itu diharapkan mampu mengusir gajah liar yang masuk ke pemukiman penduduk.
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































