PPP: Isu Reshuffle Isapan Jempol Belaka

PPP: Isu Reshuffle Isapan Jempol Belaka

- detikNews
Rabu, 09 Mar 2011 10:27 WIB
Jakarta - Golkar dipastikan tetap berada di barisan partai koalisi pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono. Isu reshuffle kabinet diyakini hanyalah isapan jempol tanpa realisasi.

"Adanya kepastian Golkar tetap di koalisi, meyakinkan kami bahwa isu reshuffle adalah isapan jempol belaka," ujar Wasekjen PPP M Romahurmuzy, kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (9/3/2011).

Hal ini disampaikan Romi menanggapi hasil pertemuan Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie dengan Presiden SBY yang memastikan posisi Golkar tetap di partai koalisi. Keputusan Presiden SBY membiarkan Golkar di koalisi diyakini Romi, demikian sapaan Romahurmuzy, sekaligus memastikan hilangnya isu reshuffle kabinet. Sebab selama ini tekanan Partai Demokrat (PD) terhadap Golkar dan PKS selalu dihubungkan dengan isu reshuffle kabinet.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Reshuffle tidak akan pernah ada, itu hanya over reaksi publik terhadap statemen Presiden, yang terbangun sejak 1 tahun pemerintahan Oktober 2010 lalu, kemudian sejak penyerahan rapor UKP4, bahkan pasca paripurna angket yang semakin menjadi-jadi," tutur Romi.

Langkah presiden ini dinilai Romi akan menuai kekecewaan sejumlah politisi. Utamanya sejumlah politisi yang bernafsu menjadi menteri.

"Orang-orang, termasuk fungsionaris seluruh parpol, yang selama ini bersilang-sengkarut soal reshuffle akan kecewa," papar Romi.

Romi berharap PD tak lagi mewacanakan isu reshuffle kabinet. Ia mengimbau partai koalisi untuk lebih memikirkan kesejahteraan rakyat ketimbang mengemas isu reshuffle kabinet yang hanya menjadi isapan jempol belaka.

"Tentu jika tidak adanya reshuffle ini menjadi keputusan akhir Presiden, sebaiknya Istana dan khususnya PD tidak lagi melontarkan sinyal yang serupa lagi. Agar bangsa ini energinya tidak terjebak pada polemik yang kontraproduktif. Lebih baik kita diskusi soal kesejahteraan, harga minyak yang terus naik, lifting minyak yang terus turun, angka kemiskinan yang masih tinggi, dan lainnya," tandasnya.

(van/nwk)


Berita Terkait