"Banyak yang membawa dinar dan dilarang. Ketika di airport digeledah. Kalau uang Libya, ya disita.Β Bayangkan tenaga kerja kita yang penghasilannya tidak seberapa, karena mata uangnya Libya, kemudian disita," kata Ketua Satgas Pemulangan WNI, Hassan Wirajuda.
Hal itu dikatakan dia usai mengikuti rapat tentang Keketuaan Indonesia di ASEAN di Kantor Wakil Presiden, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (2/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"87 Orang menginap di rumah dubes bayangkan seperti apa, 40 orang menginap di kantor. Selebihnya wanita ditampung di rumah-rumah staf. Staf kita juga banyak," tandasnya.
Sejumlah mahasiwa Indonesia di Tripoli, menurut Hassan sempat tidak boleh keluar dari Libya oleh rektor universitas tempat dimana mereka belajar. Namun, belakangan sang rektor menyetujui bahkan akan memberi kemudahan bagi mereka untuk masuk kembali begitu krisis Libya selesai.
Ketegangan yang lain, lanjut Hassan, juga dialami para staf kedubes ketika
menjemput 11 WNI yang berada 200 km dari Tripoli. Rombongan harus menembus 25 pos pemeriksaan, yang lebih banyak dikuasai oleh warga sipil, bukan lagi
militer atau polisi Libya.
"Check point di sana bukan lagi militer atau polisi, tapi oleh rakyat yang kadang-kadang perilakunya tidak mudah untuk kita hadapi," beber Hassan.
Menurut Hassan, saat ini Satgas dan juga Kedubes RI di Tunisia sedang mengupayakan bantuan bagi para WNI yang sudah selamat tiba di Tunisia, termasuk bantuan pakaian.
"Kita mencoba mencari jalan keluar. Sementara Dubes kita melakukan yang terbaik untuk memberikan bantuan, termasuk pengadaan pakaian. Itu kemanusiaan, di pusat satgas juga memikirkan bagaimana," kata dia.
(irw/rdf)











































