Seperti dikutip dari AFP, dua diktator itu adalah Jorge Videla, yang memimpin junta militer dari tahun 1976 hingga 1981, serta diktator terakhir dari rezim militer, Reynaldo Bignone yang memimpin junta dari 1982 hingga 1983.
Keduanya akan diadili bersama enam mantan pemimpin militer lainnya untuk sidang pertama Senin (28/02/11) waktu setempat. Sidang kasus ini diperkirakan baru akan berakhir pada akhir tahun nanti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, di luar pengadilan terjadi unjuk rasa. Demonstran mengibarkan bendera dan meneriakkan yel-yel keadilan. "Kami ini rampasan perang rezim," ujar Leonardo Fossati (33) yang akan bersaksi di pengadilan.
Kedua orangtua Fossati telah menghilang. Mereka adalah aktivis di Serikat Mahasiswa Sekolah Tinggi La Plata dan Pemuda Peronist. Pada saat diculik di tahun 1977, ibunya tengah mengandungnya.
"Saya lahir di kantor polisi. Ada keluarga yang beritikad baik dengan mengadopsi saya," imbuhnya sembari berterimakasih kepada para aktivis HAM yang berhasil menemukan identitas aslinya.
Pada era dua diktator kejam itu, para wanita yang membangkang dari Junta militer diasingkan di pusat penyiksaan. Mereka dibiarkan tetap hidup selama masa kehamilan dan segera dibunuh usai persalinan. Bahkan, beberapa diantaranya di lempar ke laut dalam keadaan hidup dari pesawat militer.
Bayi-bayi mereka diambil oleh aparat militer dan beberapa diantaranya diserahkan kepada kerabat dari para aparat militer. Sekitar 500 bayi diambil selama masa kediktatoran. Data ini dirilis sebuah organisasi bernama Grandmothers of the Plaza de Mayo. Organisasi ini telah berhasil melacak dan mengidentifikasi 102 dari 500 bayi yang dicuri tersebut. Beberapa diantaranya yang telah berhasil menemukan identitas aslinya telah menjadi politisi atau aktivis HAM.
(adi/ape)










































