2 Opsi Evakuasi 870 WNI di Libya

2 Opsi Evakuasi 870 WNI di Libya

- detikNews
Kamis, 24 Feb 2011 16:18 WIB
2 Opsi Evakuasi 870 WNI di Libya
Jakarta - Pemerintah RI segera mengevakuasi 870 WNI yang ada di Libya, menyusul makin tak menentunya kondisi negara minyak pimpinan Muammar Khadafi itu. Evakuasi akan dilakukan dengan 2 opsi.

"Ada 870 WNI di Libya. Keputusan Presiden tadi pagi meminta untuk segera dievakuasi," kata Menko Polhukam Djoko Suyanto usai rapat dengan Satgas Evakuasi Libya di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (24/2/2011).Β  Satgas ini dipimpin Hassan Wirajuda yang telah berpengalaman mengevakuasi WNI dari Mesir.

Djoko mengatakan, 870 WNI itu terdiri dari mahasiswa, pekerja tambang, dan TKI. Kesulitan yang dihadapi pemerintah RI yakni komunikasi dengan Tripoli tidak semudah yang dilakukan di Mesir. "Malam ini akan ada rapat mengenai mekanisme penyelamatan," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dua opsi tersebut yakni, opsi pertama, jika keadaan sudah mendesak, bisa menggunakan pesawat yang dimiliki perusahaan nasional yang sedang mengerjakan proyek di Libya. Pesawat itu mampu menampung 230 orang. Dengan pesawat itu, WNI akan diberangkatkan ke Jordania.

"Kita akan jemput di Jordania menuju Indonesia," jelasnya.

Opsi yang kedua, Satgas akan langsung mengevakuasi WNI dari Libya ke Indonesia dengan menggunakan pesawat. Alternatifnya, pesawat akan mengisi bahan bakar di Jeddah atau Kairo.

"Saat ini kita lakukan meyakinkan warga yang tersebar untuk berkumpul di bandara. Masalah situasi di Libya lebih kompleks dari Mesir," ungkapnya.

Djoko menuturkan, ada 4 orang dari Kemlu yang ditugaskan untuk menghimpun warga di bandara. Keempatnya akan diberangkatkan ke Libya.

Djoko menambahkan tidak ada yang terlambat dari proses evakuasi ini. Di sejumlah negara juga masih merencanakan evakuasi warganya. Satgas akan bekerja secepat mungkin. Semuanya tergantung pengumpulan warga di bandara.

"Pesawat reguler tetap buka di bandara Libya. Bandara masih punya tempat yang aman untuk mengirimkan pesawat. Tidak ada indikasi pesawat tempur akan menembaki pesawat reguler," ujarnya.

Dibanding Mesir, Libya memang jauh tertutup. Bandara di kota kedua di Libya, Benghazi, dilaporkan tidak bisa didarati karena landasan pacunya rusak.

(gus/nrl)


Berita Terkait