Akademisi dan Ulama Kecam Kekerasan Atas Nama Agama

Akademisi dan Ulama Kecam Kekerasan Atas Nama Agama

- detikNews
Rabu, 23 Feb 2011 14:25 WIB
Jakarta - Rangkaian kasus kekerasan mengatasnamakan agama terus terulang di negeri ini. Kasus demi kasus terjadi tanpa penyelesaian yang jelas.

Hal ini mengundang keprihatinan kaum ulama dan akademisi. Mereka mengecam kekerasan atas nama agama.

"Kekerasan yang mengancam jiwa, akal, harta, keturunan dan kehormatan orang lain tidak diperkenankan dan tidak dibenarkan oleh agama dan logika dengan dalih apapun," kata Prof Huzaimah T Yanggo dalam acara Pernyataan Sikap Para Akademisi dan Ulama, di Ruang Diorama, UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (23/2/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Huzaiman mendesak agar kaum muslimin menahan diri dan tidak mudah terprovokasi. Tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama dan dilakukan secara sepihak dengan perbuatan atau tindakan melawan hukum dapat menjerumuskan pelakunya kepada kemunkaran dan kesesatan.

"Kemunkaran tidak boleh dihilangkan dengan melakukan kemungkaran," jelasnya.

Para ulama juga mengajak kepada para tokoh agama dan umat beragama secaraumum untuk mengembangkan budaya damai dan toleran dalam kehidupan beragama. "Kepada pemerintah agar memfasilitasi dan mendorong berbagai upaya ke arah itu serta mengoptimalkan berbagai forum dialog keagamaan pada berbagai lapisan masyarakat," jelasnya.

Pernyataan sikap ini juga dihadiri oleh ulama dan akademisi seperti Prof Komaruddin Hidayat, Prof Quraish Shihab, Prof Jimly Asshiddiqie, Prof Umar Shihab, Prof Din Syamsuddin, Prof MK Tadjudin, Prof Nasaruddin Umar, Prof Yunan Yusuf, Prof Thib Raya, dan Dr Ahsin Sakho Muhammad.

Sementara, Jimly menambahkan bahwa para ulama tidak bisa membiarkan kasus kekerasan atas nama agama berkembang. Ulama dan akademisi harus berperan untuk mengurangi dan meredam kekerasan.

"Rangkaian kekerasan sudah sering berulang-ulang karena itu kita tidak boleh menganggap sudah selesai. Kita tidak kuat scara moral membiarkan konflik di masyarakat kita tanpa respon," papar Jimly.

(ape/ndr)


Berita Terkait