Menurut dr Khairul Hadi SpKK (K) kepada wartawan di Solo, bakteri antraks mampu bertahan hingga puluhan tahun dan dikhawatirkan tersimpan di tanah yang dijadikan tempat penguburan hewan tersebut.
"Lokasi penguburan hewan yang terkena antraks, sangat berbahaya untuk didekati atau diberi tanaman pangan. Pada kondisi istirahat, bakteri antraks akan berubah menjadi spora yang mampu bertahan di tanah selama lebih dari 20 tahun. Selain di tanah juga bisa menempel di tanaman," ujar Khairul, Senin (21/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena itulah biasanya daerah yang pernah terjadi serangan antraks biasanya akan menjadi daerah endemis antraks. Untuk menghindari itu, pemberantasan bakteri antraks seharusnya dilakukan secara tuntas melibatkan sejumlah dinas terkait," ujarnya.
Salah satu langkah untuk memaksimalkan pemberantasan bakteri antraks adalah dalam penanganan bangkai hewan korban antraks. Sebelum dikubur di lobang khsusus yang jauh dari pemukiman, bangkai harus dibakar. Dengan pembakaran itu diharapkan bakteri antraks telah mati.
Hadi juga mengatakan, daging atau tanaman yang telah terkena bakteri antraks tidak boleh dikonsumsi. Dikatakannya, secara pengamatan luar memang nyaris tidak ada perbedaan antara daging atau tanamam terinfeksi antraks dengan yang masih sehat.
"Sebaiknya memang kita tahu asal daging atau tanaman itu sehat atau tidak. Namun untuk langkah pencegahan maka daging atau tanaman itu dimasak dengan air hingga mendidih sebelum dikonsumsi, karena bakterinya akan mati dengan pemanasan hingga air mendidih," ujar dokter pemilik klinik kesehatan kulit tersebut.
(mbr/fay)










































