"Biasanya dalam suatu insiden atau kecelakaan, penyebabnya tidak hanya satu tapi pasti multifactor. Salah satu di antaranya karena hujan," ujar pengamat dirgantara Dudi Sudibyo dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (16/2/2011).
Setelah hujan mengguyur, di landasan sangat mungkin digenangi air. Hal ini bisa memicu terjadinya hydroplaning. Hydroplaning adalah peristiwa pemantulan pesawat dari permukaan landasan. Hal ini dikarenakan pesawat mendarat di landasan yang becek. Akibatnya, sistem pengereman pesawat tidak bekerja dengan sempurna.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika ada genangan air di landasan, pilot melakukan hard landing supaya pesawat bisa menjejak. "Nah kenapa begitu? Itu bisa dibaca di kotak hitam. Dari kotak itu bisa diambil kesimpulan dan keputusan. Apakah pilot ada salah perhitungan atau bagaimana," ucapnya.
Dari kamus bebas wikipedia, tidak sempurnanya sistem pengereman pesawat saat mendarat bisa menyebabkan pesawat keluar dari landasan pacu. Hal ini tentunya bisa menimbulkan kerusakan pesawat, misalnya saja struktur roda patah.
Hydroplaning yang kadang disebut juga sebagai aquaplaning ini dapat membahayakan keselamatan penumpang. Sebab pesawat dapat terbakar akibat percikan api yang mungkin timbul, pesawat patah atau meledak.
Pesawat Lion Air tujuan Medan-Pekanbaru-Jakarta dengan nomor penerbangan JT 0295 berjenis Boeing 737-900 ER tergelincir di Pekanbaru pada Selasa (15/2) malam. Seluruh roda pesawat keluar dari lintasan bandara. Kejadian ini diperkirakan terjadi sekitar pukul 17.00 WIB. Seluruh penumpang yang berjumlah 217 ini tidak mengalami luka-luka.
Sebelumnya, Senin (14/2) malam kemarin, pesawat Lion Air berjenis sama dengan nomor penerbangan JT 392 juga tergelincir dari runway Bandara SSK II. Tidak ada korban dalam peristiwa pertama ini. Untuk insiden yang pertama ini, Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengatakan, pihaknya tidak menemukan adanya kerusakan pada pesawat.
(vit/nrl)











































