"Islam di Indonesia adalah Islam damai, Islam yang teguh. Tidak ada kekerasan, hal itu hanya dilakukan oleh segelintir orang. Kita ingin mengubah persepsi itu dengan menghadirkan orang asing di sini," ujar Ketua IV FIC, Mafri Amir di acara International Conference Revitalization of Islam; Challenges and Opportunities, di Golden Ballroom, Hotel Sultan, Jakarta, pada hari Sabtu (12/2/2011)Β
"Kita ingin mengembangkan Islam yang moderat, toleran, memajukan ekonomi, ramah terhadap siapa saja dan mempertahankan aqidah," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
Dalam konferensi tersebut disampaikan bahwa fungsi masjid selain untuk beribadah adalah sebagai pusat pendidikan, usaha dan dapat menciptakan produk-produk masyarakat yang madani. Konferensi diadakan untuk mencari formulasi Islam Indonesia yang tepat dan rahmatan lil alamin.
Acara dihadiri oleh sekitar 300 peserta yang terdiri dari tokoh dan pakar Islam, pimpinan ormas-ormas Islam, dosen, Kedutaan Besar Luar Negeri dan lain-lain.
Dimulai pada pukul 08.00 WIB, acara ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama membahas 'Islam, Development and Empowerment in Indonesia', sesi kedua membahas 'Islam, Challenges of Trans-national Islamic Ideas/Movement'.
Pembicara pada acara ini adalah KH. Hasyim Muzadi, Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Dr. Piet Hizbullah Chaidir, MA. Konferensi ini juga diisi oleh narasumber dari luar negeri, yaitu Dr. Imtiyaz Yusuf dari George University dan Prof Dr. Mark Woodward dari Arizona State University yang telah lama meneliti kehidupan Islam di Indonesia.
"Tentu saja mereka mewakili barat. Mudah-mudahan pemikiran ini bisa disumbangkan kembali ke barat dan bisa mengubah persepsi bahwa di Indonesia ini tidak seperti yang dilihat oleh pers tertentu," tandasnya.
(ape/ape)











































