Pengamat: Mubarak Diduga Dikudeta Tak Berdarah Oleh Militer

Pengamat: Mubarak Diduga Dikudeta Tak Berdarah Oleh Militer

- detikNews
Sabtu, 12 Feb 2011 09:29 WIB
Jakarta - Presiden Hosni Mubarak telah menyatakan mundur dari Mesir. Kontan hal itu langsung disambut sorak sorai kemenangan jutaan warga Mesir yang telah berunjuk rasa selama 18 hari untuk menumbangkan rezim Mubarak.

Namun benarkah Mubarak mundur karena desakan warganya atau ada sebab lain yang membuat presiden negeri pharaoh itu terpaksa harus lengser keprabon.

"Yang terjadi di Mesir ini sepertinya lebih mirip kudeta tak berdarah. Mubarak mundur bukan karena desakan rakyatnya melainkan karena ada yang mengkudeta dirinya," ujar pengamat Timur Tengah dari LIPI, Hamdan Basyar saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (12/2/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hamdan melihat beberapa keganjilan dalam mundurnya Mubarak semalam. Pernyataan mundur yang disampaikan oleh wakil presiden Omar Suleiman membuat dugaan Mubarak dikudeta semakin besar.

"Kalau tidak dikudeta, kenapa Mubarak tidak menyampaikan sendiri pengunduran dirinya kepada publik seperti Soeharto dulu. Meskipun mesir sedang bergejolak, dan istana di kepung, tapi tuntutan rakyat adalah Mubarak mundur, begitu menyatakan mundur, rakyat tidak akan menyerbu ke istana," terangnya.

Perubahan pernyataan yang hanya kurang dari 24 jam membuat dugaan Mubarak dikudeta juga semakin kuat. Sehari sebelumnya, Kamis (10/2) Mubarak menyatakan dirinya tidak akan mundur bahkan ia akan menyerahkan tampuk kekuasaannya kepada Wakilnya Omar Suleiman.

"Jumat siang, tiba-tiba militer Mesir membuat pernyataan bahwa mereka mendukung rakyat dan siap mengawal mereka. Sorenya Omar Suleiman menyatakan kalau Mubarak telah meninggalkan Kairo. Dan malam harinya Omar kembali tampil di media dan menyatakan Mubarak telah mundur dan kekuasaan diserahkan pada militer, ini sangat aneh," terangnya.

Menurut Hamdan, tidak ada jaminan yang dikatakan Omar seratus persen benar. Bisa jadi Mubarak mundur dan meninggalkan Mesir, tapi soal menyerahkan tampuk kekuasaan kepada militer itu terlalu jauh dari konstitusi Mesir.

Lalu bila benar Mubarak telah di kudeta, siapa yang melakukan hal tersebut. "Sejarah pemimpin Mesir tidak bisa lepas dari peran militer, bisa saja militer yang melakukan ini," terangnya.

Meski demikian, jika benar dalang di balik kudeta Mesir ini adalah militer, namun Hamdan yakin September mendatang tetap akan terselenggara pemilu. "Tapi apakah nantinya pemilihan itu akan bebas sebebas-bebasnya dalam artian demokratis, atau bebas terbatas. Itu masalah baru bagu negara dalam masa transisi yang diambil alih oleh militer," imbuhnya.
(her/gah)


Berita Terkait