Militer Masih Setia pada Mubarak, Tak Ada Perubahan Besar di Mesir

Militer Masih Setia pada Mubarak, Tak Ada Perubahan Besar di Mesir

- detikNews
Jumat, 11 Feb 2011 09:27 WIB
Militer Masih Setia pada Mubarak, Tak Ada Perubahan Besar di Mesir
Jakarta - Militer Mesir menyatakan akan mendukung tuntutan para demonstran. Namun militer tidak mengambil alih kekuasaan Presiden Hosni Mubarak. Hal ini mengindikasikan, militer masih setia pada Mubarak.

Artinya Mubarak yang kukuh bertahan di kursi presiden berkesempatan besar merealisasikan keinginannya untuk tetap menjadi presiden hingga September 2011. Dengan demikian, perubahan besar di Mesir sepertinya tidak akan terjadi.

"Revolusi sia-sia juga tidak. Apa yang tengah terjadi sekarang menunjukkan kalau Mesir itu adalah negara yang sangat penting, bukan saja di antara negara Arab tapi juga geostrategi negeri-negeri besar," kata pengamat hubungan internasional, Hariyadi Wirawan kepada detikcom, Jumat (11/2/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Hariyadi, tarik ulur tengah terjadi di Mesir. Dia yakin, di balik kamera terjadi pembicaraan-pembicaraan tingkat tinggi antara berbagai pihak di Mesir. Pihak-pihak itu yakni pemerintah Mesir termasuk militer di dalamnya, kalangan oposisi dan AS.

"AS akan berusaha keras prinsip demokrasi bisa dihormati. Mubarak mundur itu pasti, tinggal kapan lalu what next, what to be done," sambung staf pengajar dari UI ini.

AS berkeinginan, Mesir tidak boleh jatuh ke kalangan yang keras terhadap mereka. Mereka juga berharap, pemimpin Mesir selanjutnya tetap mendukung kebijakan pemerintahan sebelumnya terkait skenario keamanan di kawasan Timur Tengah.

"Mengingat Mesir telah meyepakati perdamaian dengan Israel. AS dan Israel berharap,kesepakatan ini tidak akan berubah. Dengan dua skenario itu tengah dipikirkan siapa yang paling tepat untuk gantikan Mubarak," tuturnya.

AS tidak ingin revolusi yang terjadi di Mesir berakhir seperti di Iran. Iran ketika berada di bawah Syah Reza Pahlevi merupakan sekutu strategis Barat dan AS di Timur Tengah. Namun setelah revolusi terjadi dan Ayatullah Khomeini memegang kendali, sikap Iran kepada Barat benar-benar berubah.

"AS tidak mau apa yang terjadi di Iran terjadi juga di Mesir. As tampaknya ingin mengulur waktu dengan keberadaan (wapres) Omar Suleiman. Saya rasa Suleiman diminta untuk memastikan oposisi yang ikut pemilu adalah yang setuju demokrasi ala mereka," jelas pria yang pernah belajar di Universitas Jawaharlal Nehru, India, ini.

Hariyadi menambahkan, AS dan Mesir menengarai, Iran berada di balik tuntutan rakyat Mesir agar Mubarak mundur. "AS juga takut kendati Mesir tidak akan menjadi Republik Islam seperti Iran, namun akan seperti Turki yang tadinya pro Israel namun tidak lagi dekat dengan Israel," ucapnya.

Dalam pidato resminya semalam, Mubarak menyatakan tetap akan bertahan sampai dengan September 2011 dan berjanji tidak akan maju dalam pemilihan umum berikutnya. Dalam pidatonya juga Mubarak menyerahkan sebagian kekuasaan kepada Wakil Presiden Mesir Omar Suleiman. Dia juga berjanji akan menginvestigasi kasus kematian para demonstran.

Sebelumnya, beredar spekulasi kemunduran Mubarak setelah militer menyatakan memberikan dukungan untuk warga Mesir. Kemungkinan mundurnya Mubarak diperkuat dengan pertemuan Mubarak dan Suleiman.
(vit/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads