Terinspirasi dari kehidupan pesisir Pantai Ayah, Kebumen, Jawa Tengah itu, Ardiyansyah Yatim, 32 tahun, menciptakan sebuah kulkas yang bisa dipasang di sepeda motor. Berbeda dengan kulkas pada umumnya yang mendapatkan panas dari mesin kompresor bertenaga listrik, kulkas motor yang ia ciptakan mendapatkan panas dari gas buang mesin sepeda motor.
"Hal ini sebenarnya sudah pernah ditemukan pada 1928. Tapi saya mengaplikasikannya ke hal lain," kata Ardiyansyah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ardiyansyah menjelaskan, gas buang yang bersuhu 80-200 derajat celcius itu kemudian dialirkan ke alat penukar kalor (kondensor). Setelah panas dimanfaatkan, gas yang sudah bersuhu 60-80 derajat celcius itu dikeluarkan melalui knalpot.
"Jadi gas buang cuma membawa panas," kata Ardiyansyah.
Selanjutnya, kata Ardiyansyah, panas yang diambil tersebut berfungsi menguapkan bahan pendingin berupa amonia cair, berbeda dengan kulkas pada umumya yang menggunakan bahan pendingin freon.
"Jadi ini punya manfaat ekonomis dan juga ekologis," kata master dari perguruan tinggi di Korsel Fakultas Mesin Pendingin ini.
Dia mengatakan, proses selanjutnya adalah sama dengan kulkas konvensional, dimana bahan pendingin mengalami penguapan dan pengembunan berulang kali hingga akhirnya menjadi butiran-butiran es.
"Di ruang kulkas bisa mencapai suhu 0 sampai 8 derajat celcius," kata pria yang mendapat gelar sarjana dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia ini.
Ardiyansyah mengatakan, titik efisiensi dari Sitem Pendinginan Absrobsi yang dia ciptakan itu, adalah dalam penggunaan gas buang sebagai kalor. Bukan kompresor yang umumnya menggunakan energi listrik dan bahan bakar minyak (mobil).
Sementara peran ekologisnya yakni, penggunaan amonia cair sebagai bahan pendingin, bukan freon yang merusak ozon.
"Saya juga sedang mengembangkan kulkas yang memanfaatkan gas buang mesin mobil," kata Ardiyansyah yang sedang memproses hak paten kulkas motornya tersebut.
(lrn/nrl)











































