PWNU Jatim: Hasyim Hanya Harus Nonaktif Saat Kampanye

PWNU Jatim: Hasyim Hanya Harus Nonaktif Saat Kampanye

- detikNews
Kamis, 06 Mei 2004 15:31 WIB
Surabaya - Menurut Ketua PWNU Jatim, Hasyim Muzadi harus nonaktif sebagai Ketua Umum PBNU saat kampanye sebagai cawapres PDIP. Tapi setelah itu, ya aktif lagi."Aturan di NU sudah jelas. Jika masa kampanye, ya harus nonaktif dari jabatan. Ini sama seperti saat Pemilu legislatif kemarin. Pengurus NU yang menjadi calon legislatif harus nonaktif."Demikian dikatakan Ketua PWNU Jatim Ali Maschan Moesa kepada detikcom melalui telepon di Surabaya, Kamis (6/5/2004)."Nanti saat kampanye, Pak Hasyim harus nonaktif. kalau sudah selesai kampanye, ya balik lagi. Jadi bukan diberhentikan. Kecuali kalau merangkap jabatan di pengurusan NU dan pengurus harian partai, ya harus melepaskan jabatan di NU," urainya.Ditegaskan Ali Maschan, PWNU Jatim secara institusi tidak mengeluarkan sikap terkait dengan pencawapresan Hasyim Muzadi mendampingi capres PDIP Megawati. Sebab Hasyim tampil sebagai pribadi, bukan atas nama organisasi PBNU. "Itu urusan Pak Hasyim sendiri karena maju sebagai pribadi," ujarnya.Meski tidak secara terus terang, Ali Maschan terkesan sangat mendukung Hasyim. Apalagi dia menilai Hasyim sebagai kader NU yang berangkat dari bawah."Pak Hasyim kan berangkat dari Jatim dan dari bawah. Dia juga punya basis akar rumput. Saya perkirakan, minimal 70 persen suara warga NU Jatim akan ke Pak Hasyim. Sisanya 30 persen semburat kemana-mana. Sedangkan para ulama Jatim saya kira bisa memahami majunya Pak Hasyim," katanya.Ali Maschan pun terdengar pesimis saat ditanya mengenai kans Ketua PBNU Shalahudin Wahid alias Gus Solah yang sedang dalam proses lamaran menjadi cawapres mendampingi capres Golkar Wiranto."Paling dia mendapat yang semburatan itu. Itupun tidak sampai 30 persen. Karena dia itu orang baru dan tidak mengakar ke bawah," ujarnya.Dengan majunya dua kader NU, Ali Maschan mengaku tidak khawatir akan terjadi gesekan di bawah. Justru hal itu menjadi ujian kedewasaan warga NU."Karena di NU itu perbedaan pendapat sudah biasa. Dan warga NU ada dimana-mana, termasuk di berbagai partai. Jadi itu tidak masalah," tandasnya. (sss/)


Berita Terkait