Demikian disampaikan Sekretaris III Pensosbud KBRI Beograd Ance Maylany kepada detikcom, Sabtu petang atau Minggu dinihari (23/1/2011) WIB.
Dubes Semuel didampingi pejabat KBRI Beograd, sementara Presiden Tadic didampingi Direktur Jenderal Kerjasama Bilateral Kemlu Serbia Zdravko Ponos, Penasihat Kebijakan Luar Negeri Presiden merangkap Kepala Tim Kebijakan Luar Negeri Jovan Ratkovic dan Kepala Kabinet Militer Dragan Radulovic.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah penyerahan surat kepercayaan, Dubes Semuel bertemu secara bilateral dengan Presiden Tadic, membahas berbagai hal yang perlu dicapai ke depan antara kedua negara.
Pertemuan dipandu dengan buku yang disiapkan oleh tim KBRI Beograd sebagai rujukan presiden dan para pendampingnya. Buku tersebut menjelaskan posisi strategis kedua negara, kualitas hubungan kedua negara selama ini dalam berbagai bidang, serta agenda-agenda terukur yang hendak dicapai di masa depan.
Presiden Tadic sangat terkesan dan memberikan apresiasi atas kupasan materi dalam buku tersebut, sehingga percakapan penyerahan surat kepercayaan yang biasanya sangat formal dan umum, menjadi bersifat fokus dan terukur layaknya pertemuan bisnis.
Salah satu hasil penting dari pertemuan tersebut adalah keinginan Presiden Tadic untuk bisa berkunjung ke Jakarta dan bertemu Presiden Yudhoyono, atau sebaliknya menerima kunjungan Presiden Yudhoyono ke Beograd, Serbia.
Tahun 2011 ini bersamaan dengan Keketuaan Indonesia di ASEAN, akan diperingati 50 tahun usia Gerakan Non Blok (GNB) dan Sidang Non Blok pertama di Beograd (1961), yang dijadwalkan akan dilaksanakan di Indonesia pada Mei dan di Serbia pada September 2011. Indonesia bersama Yugoslavia, Mesir dan India merupakan pemrakarsa utama berdirinya GNB.
Usai pertemuan dilanjutkan dengan kunjungan penghormatan Dubes Samuel ke monumen pejuang Yugoslavia yang gugur pada Perang Dunia I, Tomb of the Unknown Soldier. Monumen ini dibangun oleh Raja Aleksander I. Pada malam harinya Dubes RI menyelenggarakan syukuran sederhana di Wisma Duta KBRI Beograd bersama masyarakat Indonesia dan Friends of Indonesia
Kualitas Hubungan
Dubes Semuel mendapat kesempatan pertama menyerahkan surat kepercayaan, diikuti oleh Dubes Hongaria, Inggris, Irlandia dan Uni Emirat Arab.
Percakapan antara Dubes Semuel dengan Presiden Tadic berlangsung lebih lama 20 menit dari alokasi waktu yang disediakan. Hal ini menunjukkan penghormatan dan kualitas hubungan baik yang telah terjalin sejak dahulu antara Indonesia dengan Serbia (Yugoslavia).
Molornya waktu pertemuan tersebut menyebabkan Dubes Hungaria harus menunggu beberapa saat di dalam mobil yang mengantarkannya ke Istana Presiden Serbia, karena Dubes Indonesia belum meninggalkan lokasi Istana.
Penyerahan surat kepercayaan sesuai Konvensi Wina, sedianya dijadwalkan pada awal Desember 2010, satu bulan sejak ketibaan Dubes Semuel di Beograd. Namun karena berbagai sebab akhirnya jadwal penyerahan tertunda hingga Januari 2011.
Penyebabnya antara lain kepadatan jadwal kegiatan pemerintahan Serbia menghadapi agenda tutup tahun, kunjungan Presiden Tadic ke beberapa negara Balkan untuk menggalang kerjasama sekawasan, pemenuhan jadwal proses integrasi Serbia ke Uni Eropa, dan pelaksanaan Pemilu di Kosovo.
Selain itu juga dinamika politik internal Serbia sebagai negara demokrasi baru layaknya Indonesia, penyelenggaraan kongres partai Demokratska Stranka/DS (Partai Demokrat Serbia) pimpinan Presiden Tadic, serta partai-partai utama koalisi pemerintah, dan keharusan Presiden Tadic menjalani operasi cedera kaki karena olahraga.
KBRI di Beograd dibuka sejak 1956. Tanah untuk gedung KBRI dan Wisma Duta yang ditempati saat ini merupakan hasil persaudaraan dan persahabatan Presiden Sukarno dan Presiden Soeharto dengan Presiden Josip Broz Tito, sehingga Indonesia menjadi satu-satunya negara yang diberikan keistimewaan membangun kantor kedutaan di area eksekutif di Beograd.
(es/es)










































