Pantauan detikcom, Jumat (14/1/2011), 150 rumah ini milik 125 Kepala Keluarga (KK) di tiga dusun di Desa Mangli, Kecamatan Kali angkrik, Magelang, Jawa Tengah. Satu rumah bahkan rubuh dari terjangan angin puting beliung yang hanya terjadi 30 detik saja.
Ketiga dusun yang terkena dampak adalah Dusun Mboyong (166 jiwa), Dusun Dadapan (136 jiwa) dan yang terparah adalah di Dusun Mangli (208 jiwa). Sebuah pemancar stasiun televisi lokal setinggi 15 meter juga patah. Persemaian bibit milik warga Desa Mangli juga rusak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam waktu 30 detik, angin sudah memporak-porandakan bagian atas ratusan rumah warga yang berada di radius antara 6-8 kilometer dari puncak lereng Gunung Sumbing. "Untung saja saat itu tidak ada korban jiwa, karena di siang hari para petani sedang menggarap kebunnya yang rata-rata sebagai petani sayur dan buah strawberry," jelas Darmanto.
Juwandi (48), Kepala Desa Mangli, Kecamatan Kaliangkrik menyatakan rata-rata kerusakan rumah adalah atap jebol dan genteng beterbangan di wilayah yang berada di ketinggian 1.500 mdpl ini. Karjo (55) warga setempat, harus merelakan rumahnya roboh.
Saat ini, warga dengan petugas TNI Kodam IV Diponegoro Jateng dan Polri Polres Magelang masih melakukan proses pembersihan terhadap puing-puing bagian atap warga. Belum ada bantuan yang diberikan kepada ratusan petani yang rumahnya rusak akibat angin puting beliung itu.Β
"Selain membersihkan, pihak kecamatan dan perangkat desa masih melakukan pendataan terhadap kerusakan yang ditimbulkan bencana angin puting beliung," kata Juwandi.
Juwandi menjelaskan bencana angin puting beliung ini sering terjadi di lereng Gunung Sumbing. Bahkan, fenomena alam yang membahayakan itu sudah dianggap biasa oleh ratusan petani yang rata-rata masih berada di bawah garis kemiskinan itu.
(fay/nrl)











































