Mayoritas Pengurus Ansor di Daerah Inginkan Kader Organisasi Terpilih

Kongres XIV Ansor

Mayoritas Pengurus Ansor di Daerah Inginkan Kader Organisasi Terpilih

- detikNews
Kamis, 13 Jan 2011 13:49 WIB
Mayoritas Pengurus Ansor di Daerah Inginkan Kader Organisasi Terpilih
Surabaya - Isu kandidat calon ketua partisan dan nonpartisan terus menggelinding dalam pelaksanaan Kongres XIV GP Ansor, yang akan secara resmi dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Makodam V/Brawijaya, Surabaya, Kamis (13/1/2011) siang.

Kondisi ini memicu terpecahnya suara kepengurusan di daerah sebagai pemilik suara, meski sebagian besar di antaranya masih menginginkan kader organisasi yang nantinya terpilih.

Informasi yang berhasil dihimpun detikcom, pelaksanaan Kongres XIV GP Ansor akan menjadi ajang pertarungan kandidat dari partai politik dan nonpartai politik. Dari 7 kandidat, 6 di antaranya berangkat dengan berlatar belakang politikus, masing-masing Chotibul Umam Wiranu (Demokrat), Nusron Wahid (Golkar), A Malik Haramaian dan Marwan Ja'far (PKB), Saifulloh Tamliha (PPP), Munawar Fuad (Vice President Pemuda se-Asia dan mantan Sekjen PP GP Ansor serta Sekretaris DPW Ansor Jawa Timur yang juga anggota DPRD Surabaya, Masduki Toha.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga saat ini hanya ada 1 kandidat yang tidak berangkat dari partai politik, yaitu Choirul Sholeh Rasyid. Pria asli Jawa Timur ini merupakan kader murni GP Ansor dan saat ini menjabat sebagai salah satu ketua dalam kepengurusan lama.

Umarsyah HS, Wakil Ketua Umum GP Ansor, menyikapi maraknya kandidat ketua berlatar belakang politik mengatakan, secara mendasar kondisi itu tidak dipermasalahkan. Meski demikian kepengurusan di daerah sudah bisa menentukan pilihannya, dengan tetap menginginkan kader organisasi yang nantinya terpilih.

"Ada sekitar 80 % kepengurusan kami nonpartisan, yang sudah barang tentu mereka juga ingin ketuanya mendatang juga nonpartisan," ungkap Umarsyah, saat berbincang dengan detikcom, melalui telepon, Kamis (13/1/2011).

Umarsyah juga mengatakan, maraknya kandidat berlatar belakang politik juga tidak perlu dipandang miring, namun sebaliknya kondisi itu menandakan kader Ansor ada di mana-mana.

"Kami memang ingin Ansor mendatang nonpartisan, namun bukan berarti kami alergi. Banyaknya kandidat dari parpol justru menjadi penanda Ansor diterima semua kalangan, dan itu akan kita gandeng semua. Tapi tetap harus diingat juga, tetap harus ada equal distance, ada pembatas yang bisa menjadikan Ansor tetap independen untuk membesarkan NU dan bangsa," sambung Umarsyah menjelaskan.

Masih kata Umarsyah, independensi GP Ansor yang terbebas dari kepemimpinan yang bersifat partisan sangat dibutuhkan, agar keberadaannya sebagai bagian dari NU benar-benar bermanfaat dalam upaya membesarkan bangsa.
(ze/anw)


Berita Terkait