Ingat, Selain Perkara Gayus, Masalah Buruh Migran Juga Penting

Ingat, Selain Perkara Gayus, Masalah Buruh Migran Juga Penting

- detikNews
Jumat, 07 Jan 2011 16:08 WIB
Jakarta - Kasus Gayus Tambunan benar-benar menyita perhatian publik. Sosok Gayus memang seakan penuh sensasi. Meski demikian, jangan lupakan masalah-masalah lain di Negeri ini, salah satunya soal buruh migran.

"Buruh Migran dianggap tidak penting dibanding perkara Gayus dan lain-lain. Padahal buruh migran ini penyumbang devisa," kata Jaleswari Pramodhawardani dari Puslit Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam Refleksi Bidang Polhukam tahun 2010 di Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (7/1/2011).

Menurut perempuan yang akrab disapa Dani ini, setiap perlakuan tidak adil terhadap buruh migran di negara lain merupakan persoalan harga diri bangsa. Dia pun mengingatkan, kasus kematian buruh migran yang kerap ditemui.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada 2008 ada 520 kematian buruh migran. Dan pada 2009 ada 1.000 kematian," beber Dani.

Dia menambahkan, potret buruh migran Indonesia kian buram dengan munculnya kabar dugaan pemerkosaan terhadap tenaga kerja wanita (TKW) oleh seorang menteri di Malaysia. "Menurut Migrant Care, negara mesti perhatian terhadap korban meskipun korban menolak melaporkan kasus itu," imbuhnya.

Dani menambahkan, Kemenko Polhukam yang mengkoordinatori politik, hukum dan keamanan di mana ada Kementerian Hukum dan HAM serta Kemenlu harus memperhatikan kasus buruh migran. Hal ini penting dan mendesak karena terkait dengan keamanan warga negara.

"Negara harus menjamin keamanan warga negara. Kita butuh sekali meratifikasi hukum perlindungan buruh migran. Filipina telah meratifikasi itu. 82 Negara di dunia yang mengirim buruh juga telah meratifikasinya," tuturnya.

Kabar pemerkosaan terhadap Rubingah (46) asal Banjarnegara, diramaikan salah satu situs berita oposisi Malaysia, Harakah Daily. Harakah mengklaim ada bocoran WikiLeaks terkait hal itu, seperti ditulis seorang blogger Malaysia, Rocky Bru.

Namun diduga itu pelintiran Harakah yang menjadi oposisi UMNO. Sebab, Bru tidak menyebut demikian di blognya. Seperti dilansir detikcom dari blognya, yang berjudul 'Wikileaks: Malaysian senior politician and his maid?', Bru mengatakan sejauh ini kasak-kusuk WikiLeaks adalah diskusi antar blogger. Bru yang mantan Pemimpin Redaksi The Malaysia Mail pun belum tahu apakah benar ada bocoran WikiLeaks soal kasus perkosaan ini.

Bru hanya memberikan tautan dokumen lain yang bukan WikiLeaks. Dokumen itu adalah laporan investigasi lembaga pembela hak-hak pekerja asal Indonesia, Migrant Care. Dokumen Migrant Care ini juga yang menjadi modal pihak oposisi mengkritisi Rais Yatim, misalnya saja dari Solidariti Anak Muda Malaysia (SAMM).

Sementara, Rais Yatim pun dalam pernyataan kepada Kantor Berita milik pemerintah Malaysia, Bernama, membantah keras tudingan itu. "Saya membantah tuduhan perkosaan yang dilakukan empat tahun lalu ataupun tuduhan yang disampaikan oleh penulis liar di internet atau partai politik," kata dia dalam pernyataannya, Kamis (6/1) kemarin.

Namun Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat menegaskan, kasus dugaan pemerkosaan terhadap Rubingah oleh Datuk Rais Yatim, tidak pernah ada. Penjelasan Jumhur didasarkan hasil pertemuan 4 staf Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Semarang dengan Rubingah dan suaminya, Sukirman. Rubingah bekerja di Malaysia sejak 1999-2007 di rumah Datuk Rais Yatim dan Datin Masnah, kemudian kembali ke kampungnya di Dukuh Kramenan Rt 2 Rw 3, Desa Pagelak, Kecamatan Madukara, Banjarnegara, Jawa Tengah.

Dalam pernyataan tertulisnya di atas materai, Rubingah menjelaskan tidak pernah terjadi upaya pelecehan seksual oleh majikannya selama ia bekerja di Malaysia. "Saya bekerja selama delapan tahun di rumah Datuk. Selama itu baik-baik saja, tidak pernah ada permasalahan, apalagi terkait perlakuan kasar serta tidak senonoh terhadap saya," kata Rubingah dalam pernyataannya.

(vit/fay)


Berita Terkait