"Ini bergantung pada hati Saudara, tapi juga tergantung pada situasi dalam negeri. Saya mengerti. Situasi dalam negeri kalau belum tertata baik, ya, kenapa pulang? Di sana lebih produktif. Saya mengerti dan saya setuju daripada di sini hanya terbengkalai kemampuan atau keahlian saudara, di sana dulu sampai kembali," kata Boediono.
Hal itu disampaikan saat membuka konferensi Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4), yang dihadiri sekitar 65 ilmuwan, di Kantornya, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (15/12/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Boediono mengatakan, kembalinya seorang ilmuwan ke negara asal kadangkala juga karena proses alamiah. Ia mencontohkan India era 1950-1970 yang 'kehilangan' banyak sekali intelektual-intelektualnya karena hengkang ke luar negeri. Namun, pada akhirnya mereka kembali dan membangun India seperti sekarang ini.
Bahkan, tidak cuma ilmu baru, para agen-agen perubahan di India tersebut membawa jaringan dan juga modal. Mereka mereka inisiatif di dalam negeri dengan membuka bermacam-macam kegiatann untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di India. Boediono yakin, hal yang sama juga akan terjadi di Indonesia di masa mendatang.
"Jadi itu memang akan terjadi, dan kita tidak perlu menahan-nahan ini. Ini proses yang alamiah," kata Boediono.
Boediono bercerita, ia pun pernah mendapat pengalaman belajar dan bekerja di luar negeri sekitar tahun 1960-an. Namun, kepergiannya ke luar negeri sempat mengalami kesulitan karena kebijakan pemerintah pada saat itu yang mengharuskan ilmuwan bekerja di dalam negeri.
"Tapi di dalam negeri fasilitasnya tidak ada, atau komunitasnya belum terbentuk. Akhirnya nganggur. Tapi pada waktu itu saya bisa juga mendapat pengalaman kerja di luar negeri," ucap peraih Bachelor of Economics (Hons.) dari University of Western Australia pada 1967 ini.
Sekadar diketahui, usai menamatkan pendidikan di University of Western Australia Boediono melanjutkan S2 di Monash University, Australia dan lulus tahun 1972. Tujuh tahun kemudian, guru besar Fakultas Ekonomi UGM ini mendapatkan gelar PhD
dari Wharton Business School, University of Pennsylvania, Amerika Serikat.
(irw/nwk)










































