Demikian bunyi kabel diplomatik WikiLeaks seperti dilansir AFP, Kamis (16/12/2010). Dalam pertemuan dengan para pejabat tinggi Amerika Serikat pada 2007, Lee juga mengatakan ucapannya yang 'pedas' itu.
"Dia (Lee) telah 'lepas tangan' dengan Myanmar. Dan menyebut mereka bodoh, karena mereka tidak bisa mengelola negara yang memiliki sumber daya alam yang sungguh besar," demikian tulis WikiLeaks dalam kawat yang dikategorikan sangat rahasia ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berurusan dengan rezim seperti halnya berbicara dengan orang mati."
Dalam kawat rahasia tersebut juga dikatakan, Lee percaya berbagai permasalahan di Myanmar akan bisa terselesaikan jika para pemuda bisa berada di garis depan dan melakukan perundingan dengan gerakan prodemokrasi di negara itu.
"Mereka bisa berbagi kekuasaan dengan para aktivis prodemokrasi, walau mungkin tidak dengan Aung San Suu Kyi, yang selama ini melakukan perlawanan terhadap militer," kata Lee.
Lee juga bertemu dengan Thomas Christensen, asisten mantan Wakil Sekretaris Amerika Serikat untuk urusan Asia Timur. Dalam pertemuan itu dia mengatakan bahwa ASEAN seharusnya tidak mengakui Myanmar, Kamboja, Laos dan Vietnam sebagai anggota.
"Anggota ASEAN terdahulu telah memiliki nilai-nilai kebersamaan dan antipati terhadap komunisme," ujar Lee.
SBY Dimintaย Jadi Penengah
Ditanya tentang kemungkinan ASEAN menunjuk wakilnya untuk berbicara dengan Myanmar, Lee menyarankan Presiden SBY yang memiliki latar belakang militer paling pantas untuk menjadi 'teman bicara'.
"Dia menyarankan agar Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono mungkin bisa menjadi 'teman bicara' yang baik," kata Lee seperti ditulis WikiLeaks.
"Sebagai mantan jenderal, SBY mungkin bisa bertemu dengan Jenderal Senior Than Shwe dan lebih didengar omongannya."
Lee menambahkan, SBY memang ingin berperannya sebagai pencipta perdamaian di Myanmar. Namun tantangannya adalah, mencari pihak yang tidak dekat dengan AS untuk membujuk SBY agar melakukan perannya.
Lee Kuan Yew (87) adalah Perdana Menteri Pertama Singapura. Saat ini dia masih menjadi tokoh yang sangat berpengaruh dalam politik lokal Singapura. (anw/Ari)











































