Jamaah SUB 53 yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (7/12/2010), menjadi korban katering basi. Lagi-lagi katering ini diproduksi oleh perusahaan Al Fatani yang sudah dijatuhi sanksi pemotongan 25 persen jatah ordernya untuk melayani makanan jamaah.
Dokter kloter SUB 53, Diana Timur Raya menyatakan sekitar 80 persen dari 450 boks atau sekitar 360 boks yang dikirim Fatani, sayurnya basi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Esti, jamaah dari Banyuwangi, mengungkapkan, menu untuk makan siang yang diterimanya dari Fatani begitu dibuka langsung tercium bau tidakย sedap. Sayur dalam boks makanan tersebut sudah berlendir.
"Sayurnya bau. Sudah tiga hari ini sayurnya bau. Kalau hari ini sangat bau, baru buka saja langsung bau," kata Esti
Rusdi, jamaah asal Banyuwangi lainnya menyatakan nasi untuk makan siang itu kurang matang. Selain itu menu sayurnya berhari-hari hanya buncis.
Hingga sore hari Fatani tidak mengganti makanan basi tersebut, sehingga jamaah terpaksa memakan nasinya dengan membeli lauk sendiri."Kita makan nasinya saja,ย beli kecap dan krupuk untuk lauk," kata Rusdi.
Fatani dijatuhi sanksi pemotongan 25 persen dari order yang harus disediakan untuk jamaah haji Indonesia karena telah dua kali menyajikan makanan basi. Pada gelombang pertama makanan basi Fatani menyebabkan 100 jamaah kena diare. Order untuk Fatani lalu dialihkan ke Andaluz.
Dengan terulangnya Fatani menyajikan makanan basi, tercatat kasus katering basi di Madinah sudah terjadi untuk yang keenam kali. Selain Fatani, perusahaan yang kena kasus katering basi adalah Makram dan Al Haidery.
Ketiga katering bermasalah ini memegang order besar dalam penyediaan makanan jamaah haji. Makram mendapat order untuk melayani 35 ribu jamaah haji. Fatani dan Haidery 30 ribu. Sementara Andaluz yang dikenal sebagai katering paling canggih dan modern hanya mendapat order 26 ribu.
(iy/mad)











































