Rencananya, Syafi'i Ma'arif akan menyampaikan hal ini secara resmi dalam jumpa pers Rabu (8/11/2010) mendatang. Dia akan menggelar jumpa pers bersama Todung Mulya Lubis, yang digandengnya sebagai kuasa hukum.
Fajar Riza Ul Haq, Direktur Maarif Institute, saat berbincang-bincang dengan detikcom, Senin (6/11/2010) mengatakan, tudingan terhadap Buya, begitu panggilan Syafii, diansir oleh Tabloid Suara Islam edisi 19 November - 3 Desember 2010. Dalam tulisan di tabloid itu, fitnah terhadap Syafii ditulis dua kali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fajar telah mendokumentasikan tabloid yang merusak kredibilitas Buya tersebut. "Tabloid itu sudah saya serahkan kepada Bang Todung," kata Fajar. Siapa pemilik dan pengelola tabloid itu? Di dalam tabloid itu, sejumlah orang disebut sebagai pengelolanya, seperti Muhammad Al Khatthath (Sekjen FUI) dan Lutfie Hakim (pengacara/TPM). Munarman (FPI), disebut sebagai legal officer.
Menurut Fajar, tabloid itu sebenarnya mengulas dan mengkritik mengenai penyelenggaraan Bakrie Award, yang dituding untuk membungkam daya kritis para tokoh. Kasus lumpur Lapindo juga diulas. Nah, tulisan miring mengenai Syafii Maarif tercantum dalam ulasan itu. Foto Syafii juga dipampang bersama foto Ical dan salah seorang penerima Bakrie Award.
Tudingan bahwa Buya menerima suap dari Ical sebuah apartemen senilai Rp 2 miliar, menurut Fajar, tidaklah masuk akal. "Ini fitnah. Apalagi selama ini, Buya sangat kritis terhadap penanganan lumpur Lapindo. Di mata Buya, lumpur Lapindo adalah human error, bukan bencana alam," kata Fajar.
Karena merasa dirugikan terhadap tulisan tersebut, Buya mengadukan Tabloid Suara Islam ke Dewan Pers, karena menilai tabloid itu melakukan pelanggaran kode etik. "Kapan ke Dewan Pers, kami serahkan sepenuhnya kepada Bang Todung," ujar Fajar. Yang jelas, Syafii meminta agar pengelola tabloid Suara Islam meminta maaf dan meralat berita tersebut.
Apakah Buya juga akan melaporkan tabloid tersebut ke polisi? Menurut Fajar, Buya tidak memiliki rencana seperti itu. "Buya hanya melaporkan ke Dewan Pers, karena selama ini Buya juga merasa tidak pernah dikonfirmasi mengenai hal itu," tutur Fajar.
(asy/nrl)










































