Rumah pilot pesawat latih TB 10 dengan nomor register PK-AGN yang hilang, RM Faruki, sunyi senyap. Orang tua sang pilot bertolak ke Banten ikut mencari Faruki yang kini belum ditemukan.
Faruki menetap di kediaman orang tuanya, di Jalan Jupiter Barat, Komplek Margahayu Raya, Kota Bandung.
Pengamatan detikcom, Kamis (2/12/2010), dua pintu pagar besi di rumah bercat cokelat muda itu digembok. Di halaman rumah, terparkir tiga unit sepeda motor. Rumah tersebut dipenuhi puluhan pot bunga dan di bagian garasi terdapat lima sangkar burung. Beberapa ekor burung di sangkar itu sering berkicau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejak kemarin maghrib, orang tua Reza sudah berangkat menuju Banten. Kakak dan adik Reza juga ikut pergi," kata salah satu warga, Naning (28).
Naning mengatakan, tetangga telah menyambangi rumah Reza sejak sejak mendapat informasi sang pilot itu menjadi korban pesawat hilang. Keluarga Reza, kata Naning, terlihat shock.
Reza merupakan anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Dadang dan Siti Rohmayati.
"Kalau bapaknya kerja di Bank Mandiri. Sementara ibunya menjadi guru SD Margahayu Raya. Rumah ini sekarang kosong. Enggak ada siapa-siapa," kata Nining.
Tetangga Reza, Nani, menambahkan Reza dikenal sebagai pribadi yang sopan dan baik.
"Reza itu kan sekolah pilot. Terakhir, saya ketemu itu saat Idul Adha lalu. Dia selalu menyapa. Orangnya sangat sopan, baik dan kasep (cakep, red)," kata istri Ketua RT 5 RW 10, Nani, saat ditemui di rumahnya.
Pesawat latih TB 10 dengan nomor register PK-AGN dikemudikan oleh RM Faruki, siswa kursus penerbangan angkatan 62 Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) jatuh di perairan Merak pada Senin 1 Desember 2010.
Pesawat latih terbang dari Bandar Udara Budiarto Curug menuju Branti Lampung berangkat pukul 08.36 WIB pada pukul 08.56 WIB.
Lokasi jatuhnya pesawat diketahui terletak pada titik S.05.58.876 E.106.08.460 dengan kedalaman 12 meter.











































