"Anak saya sempat dicekik sebanyak tiga kali setahun yang lalu oleh Dayat. Tetapi sempat gagal karena dilerai oleh tetangga kontrakan di sana," tegas Suratmin (60), ayah korban, saat ditemui detikcom di rumahnya di Dusun Suko Rame, Desa Banyu Biru, Kecamatan Dukun, Magelang, Rabu (1/12/2010).
Suratmin menyatakan sifat temperamental dan main pukul Dayat sampai-sampai membuat warga di sekitar kontrakan mengusir mereka dari kontrakan di Dusun Prebutan itu. Namun Martutik memang jarang mengadukan masalahnya itu. Para tetangga juga mengenal mereka berdua memang pendiam.
"Anak saya mengeluh soal pertengkaran mereka pada ibunya. Tetapi karena wataknya pendiam, dia tidak berani cerita ke saya, melapor ke polisi atau ke teman-teman dan tetangga," tegas Suratmin yang mengaku bermimpi ada tamu dari Kalimantan, sebelum Martutik tewas.
Suratmin terakhir melihat Dayat lima hari lalu. Dayat malah bertanya Martutik ada di mana. Bahkan Suratmin dikabari tetangga kalau Dayat membeli ember hitam besar yang kemudian dipakai untuk menyimpan potongan tubuh Martutik.
Suratmin tidak terima anaknya dibunuh dengan cara yang sangat sadis dan kejam. Dia menginginkan menantunya itu dihukum seberat-beratnya yaitu hukuman mati.
Supangat (45), mantan suami korban, juga meminta agar pelaku dihukum berat. "Saya cuma menyampaikan pesan dari anak-anak supaya pelaku dihukum seberat-beratnya. Utang pati nyaur pati (utang nyawa bayar nyawa)," tegas Supangat.
Dari Martutik, Supangat memiliki 3 anak yaitu Erma Sulistiyaningsih (19), Ina Riyani (17) dan Dicky Kurniawan (9). "Anak saya Erma yang dekat dengan ibunya, makanya kemarin begitu kejadian anak saya langsung jatuh pingsan," ujar Supangat lirih.
(fay/nrl)











































