Pembakaran bangkai ternak itu dilakukan di sekitar kandang, reruntuhanΒ rumah warga maupun di jalan-jalan dusun Srunen. Selain dibakar, tim relawan posko medik Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Dinas Pertanian Provinsi DI Yogyakarta juga menyemprotkan disinvektan.
"Semua bangkai kita semprot probiotik, agar mempercepat proses pembusukan," ungkap Ketua posko medik veteriner FKH UGM, Prof. Dr. drh. Ida Tjahajati, M.S., di Dusun Srunen, Desa Glagaharjo, Senin (22/11/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini bisa berbahaya, karena kuman dan bakteri yang sewaktu-waktu menular ke manusia.Β Ini yang sering kita sebut zoonosis," katanya.
Sementara itu Kepala Seksi Keswan dan Kesmavet, Dinas Pertanian,Provinsi DIY, Drh. Haris Handono mengatakan di wilayah Srunen, Kali Tengah paling banyak ditemukan bangkai hewan ternak yang mati akibat awan panas. Pembakaran dilakukan untuk mengantisipasi dampak yang ditimbulkan bagi kesehatan masyarakat veteriener, meski warga setempat belum banyak yang kembali.
"Pembakaran dilakukan dengan kayu-kayu dan ban bekas serta disaksikan warga maupun pemilik ternak," kata Haris.
(djo/djo)











































