"Sante mawon mas, mbok ben nek rene, ora nek bakal nganggu (santai saja mas, biar saja kalau mau ke sini, tidak bakal menganggu," ujar Boediono sambil memandikan sapi miliknya di parit depan rumahnya, Jumat (12/11/2010) siang.
Menurut Boediono ada dua kategori macan yang dapat muncul di dusun Kuwaron pada saat ini. Pertama, macan betulan yang tengah turun gunung karena kondisi Merapi. Sedangkan yang kedua, itu merupakan macan jadi-jadian.
"Lak onten mas wong sing kagungan ilmu dados macan (kan ada mas orang yang memiliki ilmu untuk berubah menjadi macan)," terangnya.
Boediono sendiri menilai bahwa macan yang dilihat salah satu tetangganya itu merupakan macan asli yang turun gunung karena kondisi Merapi. Namun pria yang berprofesi sebagai penjual sapi ini berpendapat bahwa macan tersebut tidak akan memangsa manusia.
"Nek mboten diganggu, macane mboten bakal ngganggu (kalo tidak diganggu macan tersebut tidak akan menganggu)," tegas dia.
Tak jauh dari tempat Boediono memandikan sapi, terdapat empat anak muda yang sedang asyik berbincang. Di sisi yang lain juga terdapat warga yang sibuk menyapu halamannya dengan sapu lidi.
Mereka tampak biasa saja, meski hanya berjarak kurang dari 500 meter dari lokasi umpan berupa seekor kambing dan ayam yang dipasang tim dari Gembiraloka.
Tim dari Gembiraloka yang dipimping langsung oleh Direktur Utama Antonius Tirtodiprojo telah datang langsung ke lokasi pada siang ini.
(fjr/rdf)











































