"Kita yang ada di pengungsian di sini seolah tidak diurus. Karena semuanya mulai dari masak, penyediaan air bersih, logistik, semuanya yang mengusahakan adalah pengungsi sendiri dibantu relawan mahasiswa UGM," ujar Kabag Pemerintahan Desa Lumbungrejo, Nugroho, di Jl Magelang KM 18, Sleman, DIY, Rabu (10/11/2010).
Menurut Nugroho, seluruh bantuan dilimpahkan di Stadion Maguwoharjo sehingga distribusi tidak sampai kepada pengungsi yang sudah berada di pengungsian sejak Senin (7/11/2010). Pengungsi pun merasakan kekurangan bantuan, terutama air bersih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan, di pengungsian hanya tersedia satu sumur sehingga sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan 600 pengungsi. Dinas PU setempat sempat memberikan bantuan berupa 10 MCK, namun tidak ada airnya.
"Padahal Dinas PU Kabupaten Sleman pernah menjanjikan akan mengirim air bersih untuk sarana MCK warga tetapi sampai sekarang belum ada," keluh Nugroho.
Dia menjelaskan, kebutuhan logistik pengungsi sedikit terbantu dengan adanya bantuan yang diterima dari para kolega relawan yang membantu. Selama dalam pengungsian, kaum ibu bertugas memasak sedangkan pengungsi laki-laki menimba air.
"Warga di sini yang ibu-ibu memasak. Kalau bapak-bapak menimba air untuk keperluan MCK warga. Kita seolah ditelantarkan oleh pemerintah," tutup Nugroho.
(ddt/vit)











































