"Kemungkinan mereka satu komplotan, mungkin saja. Tapi kita harus buktikan dulu," kata Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan Kompol Nurdi Satriaji saat dihubungi detikcom, Minggu (24/10/2010) malam.
Diungkapkan Nurdi hal itu terlihat dari modus operandi yang digunakan para pelaku. Para pelaku menyatroni rumah saat situasi di lokasi tengah sepi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Nurdi mengatakan pihaknya masih menyelidiki kemungkinan tersebut. "Kita tidak bisa menduga-duga," katanya.
Aksi para pelaku perampokan di Kompleks PLN ini cukup berani karena dilakukan pada siang hari. Bahkan pelaku nekad masuk ke dalam rumah tanpa menggunakan penutup kepala. Rumah korban saat itu dipenuhi oleh 5 orang saat itu yang terdiri dari 4 pembantu dan 1 anak korban berusia 3 tahun.
Kapolres Jakarta Selatan Kombes Gatot Edy Pramono sebelumnya menduga, para pelaku sudah mengetahui situasi rumah yang dijadikan sasaran perampokan. "Sepertinya pelaku sudah mengetahui kondisi di rumah. Karena setelah masuk ke dalam, langsung ke kamar majikan," ujar Gatot beberapa waktu lalu.
Para pelaku berjumlah 5 orang itu masuk ke rumah dengan berpura-pura sebagai polisi. Seorang pembantu bernama Ali Gufron ditembak di bagian perutnya saat hendak menelepon majikannya.
Pelaku kemudian mengumpulkan seisi rumah tersebut di ruang makan. Mereka lalu menggasak uang sebesar Rp 50 juta dan sejumlah perhiasan yang tersimpan di kamar majikannya.
(mei/mad)










































