Imigran Gelap Asal Iran dan Afganistan Curhat ke Menteri Hukum dan HAM

Imigran Gelap Asal Iran dan Afganistan Curhat ke Menteri Hukum dan HAM

- detikNews
Senin, 18 Okt 2010 14:43 WIB
Yogyakarta - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM), Patrialis Akbar mengunjungi 73 imigran gelap asal Iran dan Afganistan di tempat penampungan sementara kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta. Kedatangan Patrialis disambut antusias oleh para imigran gelap itu.

Saat Patrialis tiba di tempat penampungan di sebelah kantor Imigrasi Yogyakarta Jl Solo, Maguwo, langsung dikerubuti para imigran. Mereka meminta dikembalikan lagi ke Jakarta.

M Syahrial, salah satu imigran, mengatakan dia dan kawan-kawan tidak mau berlama-lama di tempat penampungan yang tidak layak itu. Apa lagi ada imigran yang dalam keadaan hamil 6 bulan, sakit dan anak-anak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Air untuk mandi kurang dan tidak ada ventilasi udara di kamar," ungkap Syahrial diamini oleh Hosein, imigran lainnya.

Mereka juga menolak disebuat imigran gelap. Alasannya mereka datang ke Indonesia dengan paspor resmi. Mereka juga sudah mengisi formulir untuk mengajukan permohonan suaka di kantor PBB/UNHCR di Jakarta.

"Kami semua muslim, Kami tidak mau kembali ke Iran. Kami bisa dihukum penjara oleh pemerintah dan dianggap sebagai teroris," katanya.

Menurut dia, untuk menyeberang laut melalui calo, rombongan sudah mengeluarkan uang jutaa rupiah. Sebelumnya mereka berangkat dari Cisarua Bogor menuju Ciamis Jawa Barat menggunakan mobil. Dari Ciamis mereka menuju Salatiga, Solo dan baru ke Gunungkidul.

"Kami semua punya pasport, kami ingin ke Australia untuk mencari kehidupan yang lebih baik," kata Syahrial.

Usai pertemuan, Patrialis mengatakan pihaknya telah melakukan pendataan dan untuk sementara para imigran itu harus ditampung di Indonesia. Para imigran itu ingin menuju Australia untuk mencari kehidupan yang lebih baik karena kehidupan di negaranya sulit.

Menurut Patrialis, selanjutnya para imigran ini akan ditangani oleh International Organization of Migration (IOM) dan UNHCR. IOM yang akan membiayai kehidupan mereka, sambil menunggu proses pendataan dan pemeriksaan oleh UNHCR.

"Mereka itu akan didata apakah mencari suaka politik atau imigran gelap. Kita hanya membantu untuk menyelamatkan dan menampung sementara saja. Semua akan dipelajari lebih dulu oleh UNHCR," kata Patrialis.

(djo/djo)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini