"Saya tidak pernah memukul istri saya. Dahulu hanya 1996, waktu masih punya anak satu. Waktu itu saya langsung minta maaf dan sampai sekarang saya tidak pernah memukul, saya tahu konsekuensi hukum kalau melakukannya," kata Purwolelono saat dihubungi detikcom, Kamis (7/10/2010).
Dia juga memberikan penjelasan mengenai insiden pelaporan pencurian brankas itu. Menurutnya, brankas itu memang milik temannya, yang dia pinjam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebenarnya persoalan dia dan istrinya sudah berlangsung lama, sejak di Bandung lalu, sekitar Januari 2010. Saat itu dia menjabat Wakapoltabes Bandung, namun istrinya yang baru melahirkan, sudah kerap pulang malam.
"Dia sering pulang pagi, tentu saya sebagai suaminya cemburu dan menanyakan itu. Dia menyebut ada kegiatan rekaman, itu buat apa? Nah di situ mulai ribut," terangnya.
Kemudian pada Mei 2010, Purwolelono dimutasi ke Jakarta. Nah saat bertugas, Purwo mengaku istrinya juga kerap pulang malam, hingga keributan kembali pecah.
"Akhirnya dia pergi dari rumah dan tinggal di Apartemen Rasuna. Saya sempat datang ke sana pada 26 Juni meminta dia pulang, saya sampai menginap, sampai saya bacakan syahadat dan salawat dia tetap tidak mau. Akhirnya saya jatuhkan talak," jelasnya.
Akhirnya keduanya memutuskan berpisah baik-baik, hingga kemudian terjadi insiden pencurian brankas itu. "Dia membawa brankas itu dengan membawa 6-7 orang, setelah dibuka brankas itu dibuang di kompleks Polri, saya pun kemudian melaporkan perbuatan itu ke Polda Metro Jaya," terangnya.
Diketahui, Wahyuti pada Rabu (6/10) siang datang ke rumah yang ditinggali suaminya di Pengadegan. Dia beralasan hendak mengambil akte kelahiran anaknya untuk keperluan sekolah. Karena dia tidak tahu kombinasi angka brankas tempat menyimpan dokumen yang dibutuhkan, dia pun membawa brankas itu. Namun setelah dia membawa pergi brankas itu dia dilaporkan suaminya ke polisi.
(ndr/gah)










































