"Ah tidak (terancam), karena di surat juga tidak ada penegasan ke polisi. Tapi ya kita tingkatkan kesiapsiagaan. Yang penting daya cegah dan daya tangkal masyarakat," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Boy Rafli Amar, di Mapolda Metro Jaya, Jl Gatot Soebroto, Jakarta, Jumat (1/10/2010).
Boy menjelaskan, karena hingga kini Ahmad belum bisa dimintai keterangan, maka motif peledakan tersebut juga belum bisa dipastikan. "Kita belum bisa bisa menduga-duga motifnya. Apakah dia tidak sengaja terjatuh dan meledak atau bunuh diri atau sengaja mau bunuh diri atau mau membunuh polisi, tapi polisi kan tidak ada yang terluka," bebernya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Polisi pun akan mendalami apakah sepeda yang dibawa Ahmad merupakan alat pendukung peledakan ataukah hanya alat trasportasi. "Nanti akan kita buktikan lebih lanjut," kata Boy.
Bagaimana mencegah terorisme ini? "Di negara kita ini kan ada Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), nanti kita lihatlah bagaimana," kata Boy.
Surat yang dikantongi Ahmad ditulis dengan tinta hitam dan berhuruf kapital. Ada dua lembar kecil yang ditemukan di saku bajunya.
Lembar pertama bertuliskan:
Bom Shahid ini adalah untuk kalian semua. Orang2 kafir kalian akan kami kejar walaupun kalian lari ke awan. Kematian kalian itu pasti. Mujahidin masih hidup di Indonesia.
Selanjutnya lembar kedua bertuliskan:
Ini adalah pembalasan pada kalian sekutu2 setan yang membunuh, menghukum mati dan menahan mujahidin. Kami siap mati untuk agama yang mulia ini.
(vit/nrl)











































