Namun penyanderaan itu hanya berlangsung singkat. Otoritas berhasil membujuk pria itu untuk menyerah secara damai hanya dalam waktu kurang dari 2 jam. Demikian seperti diberitakan News.com.au, Selasa (7/9/2010).
Insiden itu terjadi ketika pria yang tidak disebutkan namanya itu datang ke rumah sakit militer Winn Army Community Hospital untuk meminta perawatan kejiwaan. Dikatakan juru bicara Fort Stewart, Kevin Larson, tak ada yang terluka dalam insiden itu. Juga tak satu pun tembakan yang dilepaskan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menodongkan pistol ke arah seorang pegawai rumah sakit yang merupakan seorang prajurit dan langsung menuju ruang perawatan kejiwaan di lantai tiga.
Seorang perawat militer yang bertugas di ruang perawatan kejiwaan melihat pria tersebut dan langsung mendekatinya. Perawat itu pun mengajak pria itu berbicara. Namun perawat itu kemudian juga ikut disandera beserta seorang pekerja rumah sakit lainnya. Meski begitu, perawat yang merupakan perwira militer yang merupakan spesialis kesehatan jiwa, mampu menenangkan pria bersenjata itu.
"Dia (perawat) mulai berbicara pada tersangka dan menurunkan ketegangan," ujar Larson.
Polisi militer kemudian tiba di lokasi dan langsung mengepung rumah sakit. Para personel Angkatan Darat yang terlatih untuk negosiasi penyanderaan berhasil naik ke lantai tiga tempat tersangka berada.
Hanya dalam waktu kurang dari dua jam, mereka berhasil membujuk tersangka untuk meletakkan senjata-senjatanya dan menyerahkan diri.
(ita/nrl)











































