Pernyataan itu disampaikan oleh Aisyah, (39) saksi mata kejadian sekaligus teman korban sesama guide saat ditemui detikcom Jumat (24/06/2010) di rumah duka korban.
Aisyah menyatakan, korban Budi siang tadi datang ke Kompleks Candi Borobudur Magelang membawa beberapa turis yang sengaja datang dari Belanda dan Amerika menuju ke Bali dan singgah ke Candi Borobudur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lina Eliana (35), saksi mata lain yang juga teman seprofesi korban, saat mencoba itu tambang yang digunakan putus di tengah. Akibatnya, korban langsung jatuh dari ketinggian sekitar 12 meter dan menderita luka di patah tulang pada bagian kaki dan punggungnya.
"Saat saya ke sana, korban sudah dikerubuti teman-teman namun masih bisa diajak bicara dan langsung dilarikan ke RSUD Muntilan, Magelang," ucapnya.
Turis Histeris
Sementara, melihat kejadian itu, empat orang turis yang dibawa korban langsung histeris dan dilarikan ke pos penjagaan Candi Borobudur untuk ditenangkan. "Keempat turis itu satu di antaranya pingsan dan dievakuasi di pos depan. Setelah siuman turis itu langsung kembali ke hotelnya," tegas Lina.
Saat diberikan pertolongan di RSUD Muntilan, Magelang korban langsung meninggal karena luka pada tulang belakangnya sangat parah. Korban langsung dibawa pulang ke rumah duka yang berada tepat di samping Kompleks Candi Borobudur Magelang. Korban meninggalkan seorang istri Sunjiah (40) dan tiga orang anak di antaranya Firmansyah(20), Bagus Panuntun (16) dan Miftakhul Janah (4).
Selama ini, korban bekerja sebagai guide di Borobudur sudah sekitar 20 tahun. Dikalangan teman temannya, korban termasuk senior dan satu-satunya guide yang menguasai 5 bahasa (Spanyol, Inggris, Mandarin, Arab dan Jerman).
Sementara Kepala Unit TWCB Pujo Suwarno yang dihubungi wartawan melalui telepon mengatakan,Β pihaknya belum dapat memastikan penyebab meninggalnya korban. "Saya tidak berwenang berkomentar tentang penyebab kecelakaan. Itu biar polisi yang mengatakan. Yang pasti, kami akan memberikan santuan kepada keluarga sesuai aturan perusahaan," katanya.
Hanya saja, saat wartawan dari media cetak, elektronik dan televisi ingin mengambil gambar di TKP dilarang keras oleh TWCB. Kepala Keamanan TWCB Kuswanto menyatakan agar wartawan tidak usah mengambil gambar di dalam kompleks TWCB.
"Saya dapat perintah dari Pak Pujo supaya tidak mengambil gambar. Soal wawancara itu buan kewenangan kami. Sebab yang berwenang pak sekretaris di kantor Jogja," tegas Kuswanto.
Saat ini, kasus tragedi jatuhnya guide dari atas flying fox di Kompleks Candi Borobudur Magelang itu masih ditangani oleh petugas polisi setempat (irw/irw)











































