"Sudah lama kami prediksi AM bakal kalah. Awalnya mereka salah menduga sikap politik elite. Mereka pun jor-joran kampanye di media padahal itu tidak berlaku untuk menggalang dukungan dari politik elite," pendapat Direktur Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA kepada detikcom, Minggu (23/5/2010).
Menurutnya, hanya ada 2 hal yang membuat elite politikย mau memberi dukungan. "Politics elite hanya bisa didekati dengan politik uang dan pendekatan di hati," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Denny menilai, pola kampanye AM sama dengan pola kampanye pencalonan SBY menjadi presiden dulu. Menurutnya itu strategi yang keliru.
"Mengkampanyekan AM kok seperti kampanye SBY dulu. Tidak akan efektif dan hanya buang-buang duit," ujarnya.
Menurutnya, itu beda dengan Anas Urbaningrum dan Marzuki Alie yang sudah membina hubungan dengan DPC dan DPD sejak bertahun-tahun lalu. "AM sih baru menjelang pemilihan saja," tandas Denny.
Hal senada dituturkan peneliti Lembaga Survei Indonesia Burhanudin Muhtadi. "Apa yang sudah disumbangkan pada Demokrat oleh AM? Tidak kelihatan. Beda dengan MA yang sudah menjadi sekjen sejak 2005. Begitu juga AU. Coba AM dia baru 2 bulan ini mendekat ke kader-kader Demokrat. Wajar dukungan lebih mengarah ke AU dan MA," ucapnya.
(dip/nrl)










































