Pengamat politik dari Universitas Indonesia Rocky Gerung menilai, Anggoto menjadi korban dari kartel politik yang saat ini dimainkan oleh SBY dan Aburizal Bakrie.
"Jelas Anggito jadi korban," kata Rocky Gerung kepada detikcom, Sabtu (22/5/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nama Pak Anggito adalah nama yang 'berbunyi' di Golkar. Ada kartel, kesepakatan antara Presiden dan Ical, dua-duanya ingin memanfaatkan," imbuhnya.
Rocky mengatakan, kultur Presiden SBY dalam merekrut para pejabat memang suka memberi janji, memberi harapan, tapi ternyata kadang tidak ditepati. Hal ini juga terjadi saat Calon Menkes di Kabinet Indonesia Bersatu II, Nila Juwita Afansa Moeloek. Meski sudah menjalani serangkaian tes, Nila toh akhirnya tak diangkat sebagai menteri.
"Kultur politik Presiden memang seperti itu. Pola dia merekrut pejabat, semua orang pernah dipanggil, pernah dijanjikan. Tapi tidak ditepati," imbuhnya.
Dia menilai positif langkah Anggito yang kembali ke kampus UGM untuk mengajar. "Itu langkah yang tepat supaya kembali ke kampus dan merefleksi ulang ilmu yang dimiliki," ujarnya. (anw/gah)










































