"Itu jelas fitnah dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan saya. Kalau memang kegiatan (rekonstruksi) itu melibatkan saya kenapa harus diperankan orang lain. Saya dipanggil saja pasti akan datang untuk menjelaskannya," ujarnya kepada wartawan di Kantor Pusat JAT di Jalan Batik Keris, Cemani, Sukoharjo, Sabtu (15/5/2010).
Ba'asyir sendiri mengaku tidak tahu adegan atau peristiwa apa yang direkonstruksi oleh polisi tersebut. Dia mengakui adanya rekonstruksi yang melibatkan seseorang yang diberi tag nama Abu Bakar Ba'asyir itu dari warga sekitar Pejaten yang menghubunginya setelah menonton rekonstruksi dan juga dari informasi media.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penangkapan para anggota JAT itu jelas-jelas telah merugikan nama jemaah kami. Dengan dilepaskannya sebagian besar dari mereka yang telah ditangkap di Pejaten, membuktikan jamaah kami tidak berkaitan dengan gerakan terorisme," ujarnya.
Ba’asyir juga medesak kepada polisi untuk segera membuka segel dan garis polisi yang terpasang di kantor JAT Wilayah Jakarta. Alasannya, rumah kontrakan yang dijadikan kantor JAT tersebut masih dibutuhkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan.
(djo/djo)











































