"Pemerintah harus ikut bertanggungjawab menangani itu. Tidak cukup hanya polisi yang hanya mederadikalisasi saja," kata mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Prof Dr Azyumardi Azra, di sela-sela persiapan acara sosialisasi Barisan Tolak Terosisme di Hotel Ibis Malioboro, Rabu (5/5/2010).
Menurut Azyumardi, polisi hanya menangkap para pelaku saja. Sedangkan hakim hanya menangani bila kasusnya sampai persidangan di pengadilan. Sementara pelaku yang telah bebas, keluarga dan anak-anak pelaku teror tidak ada yang memperhatikan. Padahal jumlah mereka banyak sekali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seharusnya, lanjut Azyumardi, pemerintah sudah mulai memikirkan persoalan tersebut. Bila ada seorang anggota teroris yang telah bebas harus dipikirkan masalah pekerjaan atau diberikan bantuan pelatihan kerja dan modal usaha. Demikian pula masalah pendidikan anak-anak mereka harus ada semacam bea siswa.
"Kementraian tenaga kerja, sosial untuk memberikan pelatihan di balai latihan kerja, bantuan modal dan diknas juga harus membantu mereka. Bila tidak kemungkinan mereka kembali lagi (melakukan terorisme) sangatlah besar," ungkap dia.
Azyumardi menambahkan, pemerintah juga perlu mewaspadai kembali munculnya aksi terorisme. Sebab aksi terorisme dengan bom bunuh diri adalah masalah laten di negeri ini. Saat ini terdapat sekitar 400 orang yang pernah terlibat terorisme, baik yang sudah bebas atau masih menjalani hukuman.
"Sel-sel tersebut masih bisa aktif dan berusaha terus merekrut anggota. Dan untuk menghadapinya tak cukup polisi saja tapi juga semua pihak mulai dari keluarga, lingkungan sekitar hingga sekolah dan pesantren," katanya.
Menurut direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah itu, sel-sel tersebut akan terus bergerak aktif dan melakukan pendekatan personal. Sasaran utama mereka anak-anak muda. Lembaga-lembaga pendidikan umum juga sangat potensial untuk menjadi ajang perekrutan.
"Di lembaga-lembaga seperti pesantren, kita ingin memberikan penyadaran bahwa makna jihad itu luas, tidak bisa disamakan dengan bom bunuh diri," pungkas Azyumardi.
(djo/djo)










































