Hadapi 2014, PD 'Jual' Partai Tengah dan Partai Jangkar

Hadapi 2014, PD 'Jual' Partai Tengah dan Partai Jangkar

- detikNews
Jumat, 30 Apr 2010 12:03 WIB
Hadapi 2014, PD Jual Partai Tengah dan Partai Jangkar
Jakarta - Pemilu 2014 sudah pasti berlangsung kompetitif bagi Partai Demokrat (PD) yang tidak dapat lagi 'menjual' SBY. Tetapi PD justru memasang target perolehan suara minimal 30% dan menyiapkan 'barang dagangan' baru untuk mencapainya.

"Partai tengah dan partai jangkar," sebut Andi Mallarangeng (AM) tentang nama 'barang dagangan' yang sedang dimatangkan PD untuk berlaga di Pemilu 2014 mendatang. Ini dia sampaikan saat bersilahturahmi ke redaksi detikcom, Jl Warung Jati, Jakarta Selatan, Kamis (29/4/2010), selaku kandidat ketua umum PD 2010-2015.

Sebenarnya istilah partai tengah dan partai jangkar tersebut sama sekali tidak baru. Jargon tersebut sempat populer dalam iklan-iklan PD yang muncul media massa pada sepanjang musim kampanye Pemilu 2009 lalu.

"Partai tengah ini kami pilih secara sadar. Bukan karena mau cari aman dan tidak mau ke kiri atau ke kanan," ujar AM mengawali penjelasannya.

Layaknya seorang dosen ilmu politik, AM yang berkemeja batik biru kemudian menuju papan tulis. Dia lalu menggambar kurva mengenai pandangan politik masyarakat Indonesia, bahwa kalangan mayoritas bukanlah berpandangan kiri atau kanan tetapi justru berada di tengah.

Di garis X yang dibagi sama panjang oleh garis Y, dia menuliskan sejumlah partai politik yang menganut paham politik kiri dan kanan. Baik yang sangat kiri dan kanan, maupun ada di tengah tetapi pandangan politiknya cenderung ke kanan atau ke kiri.

"Semakin condong ke kanan atau ke kiri, jumlah penganutnya semakin kecil tapi suaranya nyaring," sambung pria berkumis lebat itu.

Melihat bahwa mayoritas penduduk Indonesia berpandangan politik tidak ke kiri dan ke kanan tetapi ada di tengah, maka PD memposisikan diri berada di tengah. Posisi di tengah ini yang akan menjadi pembeda utama PD dibanding partai politik lain yang akan menjadi kompetitornya di Pemilu 2014.

Lebih lanjut AM memaparkan, sejarah politik Indonesia membuktikan rakyat menginginkan garis politik nasional selalu berada di tengah. Setiap kali ada yang mencoba menarik keseimbangan baik ke kiri dan ke kanan, selalu terjadi pergolakan politik nasional.

"Karenanya perlu ada partai jangkar untuk menjaga agar garis keseimbangan itu tetap ada di tengah," imbuh mantan dosen IIP Jakarta ini.

AM sepenuhnya sadar ada partai politik besar yang juga memposisikan diri di tengah. Tapi menurutnya belum ada yang benar-benar barada di tengah, melainkan tengah yang cenderung ke kiri dan cenderung ke kanan.

"Selain itu perolehan suara mereka dari 3 kali pemilu terakhir juga terus turun," ujar AM optimistis sembari mengingatkan bahwa pada periode sama suara yang diperoleh PD terus meningkat signifikan.

(lh/nrl)


Berita Terkait