"Tidak benar isu itu. Saya bergabung ini karena saya diminta oleh Kiai Said dan disetujui oleh Mbah Sahal dan formatur. Kalau soal itu (Pilpres), biarkan yang muda-muda. Saya itu sudah 60 tahun," kata As'ad kepeda wartawan seusai acara Ta'aruf pengurus PBNU di Gedung Pegadaian, Jl Kramat Raya, Jakarta, Rabu (28/4/2010).
Hadir dalam acara Ta'aruf ini para pengurus PBNU dari jajaran Syuriah dan Tanfidziyah. Selain itu juga para kiai dan sesepuh NU dari berbagai daerah di Jawa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu, waktu ketua PBNU nya Pak hasyim, saya juga diminta, tetapi saya memilih membantu dengan cara tidak masuk kepengurusan. Sekarang, Pak Kiai Said juga meminta. Saya sebagai kader Nu ya samikna waathokna," paparnya.
Terkait adanya pro-kontra atas masuknya As'ad di kepengurusan PBNU, keturunan Mbah Mutamakkin ini menilai hal itu sebagai dinamika yang wajar. Pada saatnya, lanjutnya, dinamika itu akan menemui titik keseimbangannya sehingga semua akan bisa memahami.
"Di NU itu kalau ada yang menerima dan menolak itu hal yang wajar. Itu namanya ada dinamika. Pada akhirnya NU akan bisa bersatu," jelasnya optimis.
Alumnus UGM dan pesantren Krapyak Jogjakarta ini menegaskan bahwa keterlibatannya di PBNU dalam periode ini murni untuk menyempurnakan pengabdiannya sebagai seorang santri. Sebab, pengetahuan dan pengalaman serta jaringan yang luas akan menjadi modal besar untuk mewujudkan NU lebih memperhatikan warganya.
"Saya diminta karena pengalaman dan jaringan saya selama ini. Sebagaimana amanat Kiai Sahal, saya diminta untuk mengembangkan ekonomi umat, pendidikan dan siyasatulwathaniyyah (politik kebangsaan)," paparnya.
Saat ditanya mulai kapan efektif dan total bekerja untuk PBNU, As'ad menjawab diplomatis. "Sekarang sudah aktif, tetapi lebih fokusnya lagi nanti setelah Mei (pensiun dari jabatan Wakabin)," pungkasnya.
(yid/mok)










































