Dalam pertemuan kedua kelompok yang diidentifikasi berasal dari organisasi mahasiswa daerah asal Luwu, Sulawesi Selatan dan organisasi mahasiswa daerah asal Bima, Nusa Tenggara Barat, dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat dari dua daerah terkait dan juga disaksikan oleh Kapolwil Makassar, Kombes Chairul Anwar, Kapolres Makassar Timur AKBP Totok Lisgiarto dan Rektor UVRI Syamsu A Kamaruddin.
Pertemuan yang tertutup bagi wartawan ini dan digelar di ruang rapat Mapolres Makassar Timur, berlangsung dari pukul 19.00 sampai pukul 23.45 Wita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masyarakat Bima sebenarnya itu masih saudara dengan masyarakat Luwu. Sebab, leluhur kami Sultan Kaharuddin dan Sultan Salahuddin yang menyebarkan agama Islam di Bima asalnya juga dari Makassar, jadi tidak perlu kita memperpanjang masalah," pungkas Bahrain yang sudah puluhan tahun tinggal di Makassar.
Sementara itu dari pihak kepolisian, menduga ada pihak ketiga yang sengaja memanas-manasi kasus ini agar meluas pada konflik SARA. Hal ini diutarakan oleh Wakapolres Makassar Timur, Kompol M Ridwan yang ditemui saat perundingan berlangsung. Ia mengaku menerima banyak informasi liar terkait bentrokan di UVRI, seperti isu mahasiswi asal Bima yang diperkosa, juga isu korban mahasiswa asal Luwuk yang kini dirawat di RS Wahidin Sudirohusodo sudah wafat.
"Untungnya, kami selalu memonitor isu-isu yang berkembang terkait kasus ini dan berupaya mempertemukan tokoh-tokoh senior dari kalangan mahasiswa agar berdamai," ungkap Ridwan.
Sementara itu, pihak Polwil Makassar tetap menyiagakan ratusan personel dari Brimob Polda Sulselbar untuk berjaga-jaga di sekitar asrama dan sekretariat kelompok mahasiswa yang bertikai, seperti di sekretariat Ikatan Pemuda Mahasiswa Indonesia Luwu (IPMIL) di jalan Kijang dan beberapa sekretariat kelompok mahasiswa asal Bima di jalan Skarda II dan jalan Sungai Pareman, Makassar.
(mna/ape)











































