Yunia merupakan salah seorang siswa SMP Luar Biasa (LB) yang saat ini tengah menghadapi ujian nasional bersama 4 temannya. Sebagai siswa SMP LB kelas A (Tuna netra), Yunia memang mendapat perlakuan berbeda dari kebanyakan siswa sederajatnya. Lembar soal dan jawaban yang ia terima semua berbentuk huruf Braille.
"Ada yang susah ada yang mudah. Mudah-mudahan nanti bisa lulus semua," ujar Yunia kepada detikcom usai menyelesaikan ujian pertama pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, di SMP LB Pembina Tingkat Nasional, Jl Pertanian Raya, Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Senin (29/3/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekolah LB Pembina Kelas A memang mengkhususkan pendidikan bagi mereka yang memiliki kekurangan penglihatan. Sekolah ini mulai dari TK sampai SMA dengan jumlah siswa hanya 75 orang.
"Yang ikut UN SMP lima orang, sedangkan SMA kemarin hanya empat orang," ujar Guru Komputer Triyanto kepada detikcom.
Bagi siswa SLB, mereka hanya diwajibkan mengisi lembar jawaban dengan melingkari huruf-huruf pada lembar khusus berhuruf braile, selanjutnya para pengawas yang akan menyalinnya kedalam lembar jawaban komputer.
"Karena mereka tidak bisa mengisi di lembar jawaban komputer (LJK) maka pengawas yang nantinya akan memindahkan ke LJK," tambah Triyanto.
Triyanto pun menambahkan jika pengawas para siswa diambil dari sekolah lain dan dari pihak luar sekolah sehingga bisa dijamin tidak ada manipulasi dalam pemindahan tersebut.
"Soalnya juga sama dengan sekolah sedarajat lainnya, hanya saja lembar soal dan jawaban berbentuk Braille," pungkasnya.
(her/fay)











































