"Lha semua teknis kerjasama militer to militer sudah berjalan kok. Mau apa lagi? Apa yang kita cemaskan?" kata Menhan Purnomo Yusgiantoro, di Kantor Presiden, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (15/3/2010).
Menurutnya, kerjasama militer RI-AS sudah kembali berjalan lancar menyusul keputusan pencabutan embargo militer pada akhir 2005. Sejak itu TNI kembali rutin mengirim personel ke AS untuk menempuh pendidikan komando, S2 dan teknis lain seperti latihan melawan terorisme seperti yang sedang berlangsung.
Namun bila militer AS menginginkan adanya latihan bersama antarpasukan tempur, bagi Indonesia hal itu bukan masalah. Termasuk kemungkinan latihan bersama Kopassus TNI AD yang hingga kini tidak lagi diadakan terkait tudingan terlibat pelanggaran HAM dalam kerusuhan Mei 1998.
"Silahkan kalau kerjasama keamanan, nggak ada ya nggak apa-apa. Mau latihan lagi juga silahkan, nanti kita akan ada hitung-hitungan. Bagi kita Kopassus tidak ada masalah, doktrin perang hutan mereka diakui dunia. Malahan mereka yang belajar ke kita soal perang di hutan," papar Menhan.
Lalu bagaimana dengan kerjasama modernisasi peralatan tempur satuan TNI seperti penambahan skuadron pesawat F16? "Kebijakan kita untuk striking forces sudah jelas, kita tidak mau tergantung pada satu kekuatan. Kalau soal jet tempur, banyak kok yang ke kantor menawarkan," jawab Menhan.
(lh/lrn)











































