"Ini lebih besar dari Noordin Top. Noordin bergerak solo, dengan formasi 124. Kalau yang di Aceh ini persis formasi Mindano, lebih global," kata pengamat terorisme Mardigu dalam perbincangan dengan detikcom via telepon, Minggu (7/3/2010).
Menurut Mardigu, Alqaeda memanfaatkan Mindano untuk latihan perang, tidak hanya untuk memerdekakan Filipina Selatan, tapi juga lebih besar lagi untuk menyiapkan kader terorisme. Nah dalam kasus Aceh, Alqaeda juga memakai Aceh untuk pusat latihan teroris setelah sebelumnya gagal di Ambon dan Poso.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aceh itu teritori berikutnya setelah Ambon dan Poso. Jadi terorisme ini benar-benar dari pusatnya yang holistik. Jadi sangat berbahaya," tegas Mardigu.
Seperti apa model terorisme di Aceh, Mardigu belum bisa menjelaskannya. Namun menurutnya, jaringan Aceh ini akan berbeda dengan gaya Noordin yang melakukan pengeboman. Aceh lebih dijadikan pusat pelatihan terorisme. (iy/anw)











































