Bangun Anjungan Mirip Tianamen, Pengelola Anjungan Tionghoa akan Digugat

Bangun Anjungan Mirip Tianamen, Pengelola Anjungan Tionghoa akan Digugat

- detikNews
Kamis, 25 Feb 2010 11:31 WIB
Bangun Anjungan Mirip Tianamen, Pengelola Anjungan Tionghoa akan Digugat
Jakarta - Pergerakan Reformasi Tionghoa Indonesia (PARTI) sudah melayangkan protes tentang pembangunan anjungan Tionghoa di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Namun protes tersebut tidak digubris. Langkah selanjutnya, PARTI akan melayangkan gugatan hukum.

"Akan segara kita layangkan gugatan ke pengadilan. Dasarnya, pengelola TMII terlalu memberikan prioritas terlalu hebat pada etnis Tionghoa dalam pembangunan anjungan tersebut," kata Ketua Umum PARTI, Lieus Sungkharisma kepada detikcom, Kamis (25/2/2010).

Tidak hanya melakukan upaya hukum, Lieus juga akan protes dengan cara politis. Dalam waktu dekat, ia akan mengadu ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pejabat terkait tentang hal ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya protes sebagai masukan positif. Kalau bisa Presiden SBY juga bertindak terhadap hal ini," ucap Lieus, yang juga warga Tionghoa.

Apa alasan Lieus begitu ngotot protes? Rupanya, dalam maket desain anjungan tersebut, ada kemiripan dengan lapangan Tiananmen di China. Hal ini terlihat dari lapangan hingga kuil Shaolin dan pagoda yang akan dibangun.

"Itu kalau sudah jadi, tinggal dipasang saja foto Mao Zedong. Sudah mirip sekali," imbuhnya.

Menurut Lieus, seharusnya dalam sebuah anjungan yang dibangun di TMII, desain bangunan disesuaikan dengan ciri khas etnis Tionghoa-Indonesia, bukan berkiblat pada negeri asalnya. Sebagai contoh, ada rumah etnis Tionghoa yang pernah dijadikan persembunyian mantan Presiden Soekarno di Rengasdengklok.

Selain itu, rumah tempat pembacaan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 juga merupakan milik warga Tionghoa. "Coba kalau itu yang dipasang replikanya atau kalau perlu dibawa ke situ rumahnya. Tentu nggak akan protes saya," jelasnya.

Hingga saat ini, Lieus masih menunggu undangan resmi dari pengelola untuk berdiskusi tentang masalah ini. Jika tetap diacuhkan, ia akan melakukan protes yang lebih besar.

"Saya khawatir ini akan memicu konflik baru di masa yang akan datang. Kasihan anak cucu kita," tutupnya.

(mad/iy)


Berita Terkait