Pengamat: Hasyim Harus Berani Maju Tanpa Restu Gus Dur
Jumat, 30 Apr 2004 09:59 WIB
Jakarta - Restu Ketua Dewan Syuro PKB Abdurrahman Wahid bagi Ketua umum PBNU Hasyim Muzadi untuk maju sebagai calon wakil presiden hampir tidak mungkin didapat. Karena ini Hasyim harus berani maju sebagai cawapres tanpa restu Gus Dur.Pengamat politik dari Universitas Indonesia Maswadi Rauf, dalam perbincangannya dengan detikcom, Jumat (30/4/2004) pagi, menyatakan sulit membayangkan Gus Dur memberi restu kepada Hasyim untuk menjadi cawapres membawa nama NU."Memang jelas lebih mantap kalau didukung Gus Dur. Suara NU tidak pecah. Tapi saya tak pernah membayangkan Gus Dur mendukung Hasyim. Jadi Hasyim harus berani maju tanpa dukungan Gus Dur. Harus berani tanggung resikonya. Kan dia sudah didukung para kiai NU yang bertemu di Surabaya," jelas Maswadi. Oleh karena itu Ketua umum Golkar Akbar Tandjung dan calon presiden Wiranto, menurut Maswadi, tidak perlu minta restu dari Gus Dur kalau ingin meminang Hasyim sebagai cawapres. "Ngapain Akbar dan Wiranto ke Gus Dur. Tak usah minta. Hasyim kan sudah dapat dukungan kiai. Lebih baik fokus untuk melobi Hasyim"Selain itu, menurut pengamatan Maswadi, pengaruh Gus Dur di kalangan nahdliyin sudah tidak sekuat sebelumnya. Dalam satu tahun terakhir ini sudah semakin banyak kritis dari internal NU kepada Gus Dur. Tokoh NU kini terpecah menjadi dua, yaitu yang mendukung PKB, dan yang menginginkan NU independen sebagai ormas. "Sebagian kiai ingin membebaskan diri dari pengaruh Gus Dur yang tak menentu. Sikapnya tak jelas. Jadi mereka mendukung Hasyim."Sementara tentang posisi Hasyim yang menjadi rebutan Wiranto dan Megawati untuk menjadi cawapresnya, ini karena NU punya massa yang tradisional, fanatik, dan loyal mengikuti kehendak pimpinan. "Ada 10 juta nahdliyin, mendapat dua pertiganya saja kan sudah sangat berarti," papar Maswadi.Sedang tentang pinangan mana yang kemungkinan diterima Hasyim, Maswadi menunjuk pada kubu Golkar. "Dengan Mega agak berat. Lebih cenderung ke Wiranto. NU kan biasa kerja sama dengan Golkar. Selama Orba, sebelum menyatakan khitah, kan bekerja sama dengan Golkar," demikian Maswadi Rauf.
(gtp/)











































