"Mereka bukan kekerasan, hanya putus asa. Mereka hanya ingin makan," ujar Kolonel Angkatan Darat Brasil, Fernando Soares seperti dilansir Reuters, Rabu (27/1/2010).
Warga yang kelaparan kemudian berkerumum mencari makanan yang sudah rusak di luar istana presiden. Hal ini dilakukan karena bantuan untuk korban gempa mengalami penundaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masalahnya makanan tidak cukup untuk semua orang." kata Soares.
Gempa berkekuatan 7,0 SR telah menewaskan sedikitnya 200 ribu orang dan menghancurkan ibukota Haiti, Port-au-Prince, dan kota-kota lain. Sementara ribuan orang lainnya terluka dalam musibah tersebut.
Pasukan penjaga perdamaian PBB dan pekerja bantuan kini diperluas guna meningkatkan pendistribusian bantuan. Hal itu dilakukan karena korban mengeluhkan banuan yang ditujukan ke Haiti tidak sampai ke tangan para korban.
Di istana kepresidenan pada hari Selasa lalu, pasukan PBB membagikan karung beras dengan bendera Amerika pada mereka. Truk lapis baja membentuk barisan untuk mengendalikan kerumunan dan orang-orang digeledah ketika mereka memasuki pos pemeriksaan.
"Kemarin mereka memberi kami beras, tapi tidak cukup. Ada terlalu banyak orang," kata seorang korban, Wola Levolise, 47, yang tinggal di kamp dengan sembilan anak-anak.
Amerika Serikat telah mengirimkan lebih dari 15.000 personil militer ke Haiti. Sekitar 4.700 dikerahkan di tanah dengan sisanya kapal-kapal di lepas pantai.
(mei/Rez)











































