"Ada krisis, tapi tidak sejauh itu, tidak seberat apa yang dibicarakan bahwa negara ini mau kolaps dan macam-macam. Enggak lah," ujar Jusuf Kalla dalam rapat dengan pansus Bank Century di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Kamis (14/1/2010).
Pernyataan Kalla ini sekaligus menepis pernyataan Sri Mulyani dan Boediono bahwa kondisi negara ketika itu sedang krisis akibat terpaan krisis global. Kondisi krisis itulah yang menjadi salah satu dasar menyatakan bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.
Mantan Gubernur BI Boediono dalam rapat dengan pansus 21 Desember 2009 lalu menyatakan, kondisi pada akhir 2008 dan awal 2009 itu hampir menyerupai krisis tahun 1997-1998. Kurs rupiah melonjak-lonjak dari Rp 9.000 per dolar AS hingga mendekati Rp 13.000 per dolar AS. Cadangan devisa merosot tajam, likuiditas mengering karena aliran dana keluar dan antar bank berhenti saling meminjamkan.
"Ini situasi krisis dimana semua harus direspons dengan cepat. Oleh sebab itu, situasinya modal keluar dari Indonesia, meski terjadi banyak negara berkembang, tapi Indonesia paling parah salah satunya karena negara sekeliling kita blankeet guarantee , penjaminan penuh bagi simpanan," urai Boediono.
Kalla juga membantah kolapsnya Bank Century berkaitan dengan kondisi krisis. Kalla bersikukuh kolapsnya Bank Century berkaitan dengan perampokan oleh mantan pemiliknya.
"Itu bank gagal, tapi gagal karena dirampok, bukan krisis," ketusnya.
(qom/asy)











































