Rektor Undip: Parpol Penolak Pemilu Tak Punya TITS
Senin, 12 Apr 2004 15:10 WIB
Semarang - Kecaman masih juga mengarah ke Aliansi 21 Parpol penolak hasil pemilu dan pemilu ulang. Rektor Undip Semarang Eko Budiharjo menyatakan, ke-21 parpol itu tak punya TITS. Apa pula itu?"TITS itu Trust, Integrity, Tolerance, dan Spirit to union. Parpol yang menolak hasil pemilu ya mereka yang tak punya rasa percaya pada penyelenggara pemilu, integritas, toleransi, dan semangat untuk bersatu," tutur Eko kepada Triono W Sudibyo dari detikcom di kantornya, Jl. Imam Bardjo Semarang, Senin (12/04/2004).Karena tak punya TITS, kata dia, akhirnya parpol yang kecewa biasanya langsung berulah. Apalagi kalau sudah berkaitan dengan ego kelompok atau partai."Parpol-parpol yang menolak pemilu itu kelihatannya adalah mereka tak bisa mengatasi rasa kekhawatirannya karena suara parpol lama masih dominan sementara ini. Meski sebetulnya, tak semua yang dikhawatirkan itu bakal terjadi. Suara Partai Golkar dan PDIP masih bisa terkejar oleh partai lain," papar Eko panjang lebar.Apalagi, tambah dia, pernyataan 21 parpol tersebut belum tentu mencerminkan suara partai. Sebagian dari mereka yang hadir dalam aliansi parpol datang dan terlibat atas inisiatif sendiri. "Tapi, karena mereka termasuk petinggi di parpolnya, maka mereka bisa mengatasnamakan parpol," ungkapnya.Menurut Eko yang juga Koordinator Forum Rektor Indonesia Wilayah Jateng ini, menolak pemilu bukanlah sikap yang baik. Di samping biayanya terlalu mahal, hal itu juga malah membingungkan rakyat. "Lha wong sudah pemilu kok, masak mau pemilu lagi," ujarnya.Persoalan kecurangan yang terlihat menumpuk, kata Eko, hal itu bisa menjadi pelajaran. Terutama untuk pemilihan presiden (pilpres) 5 Juli mendatang.Misalnya, kata dia, money politics, pelanggaran lalin, berkampanye di luar jadwal, atau pelanggaran yang lain. Kalau pelanggaran seperti di atas dilakukan oleh semua parpol, berarti peraturannya harus diubah. Atau, minimal dibuat lebih fleksibel sedikit.Eko mengharapkan 'ulah' 21 parpol tersebut tidak menjadi besar, tidak sampai menjadi bola salju yang menenggelamkan sukses dan absahnya Pemilu 2004. "Karena kalau sampai itu terjadi, bisa membahayakan kelangsungan demokrasi kita," demikian Eko.
(nrl/)











































