Di LP Makassar
Napi Juga Antusias Mencoblos
Senin, 05 Apr 2004 13:01 WIB
Makassar - Dua buah TPS yang dibangun dalam Lembaga Pemasyarakatan (LP) Gunung Sari, di Jl Sultan Alauddin, Makassar, ramai dikunjungi oleh sekitar 600 narapidana (napi) dan tahanan yang mendekam di LP tersebut, Senin (5/4/2004). Para napi tampak antusias.Mulai pukul 07.30 WITA, para napi telah berbondong-bondong berkumpul di depan pintu masuk dua TPS yang disediakan, yakni TPS nomor 84 dan 85.Napi perempuan yang mendapat kesempatan lebih dulu untuk menggunakan hak suaranya, tak kalah antusiasnya. Sekitar 50 orang narapidana perempuan di LP Gunung Sari rela berlama-lama di depan TPS untuk menunggu giliran.Di sel-sel penjara, hanya beberapa orang saja yang tetap berdiam diri di selnya, sementara yang lainnya berkumpul sambil memperhatikan contoh surat suara yang ditempelkan di depan TPS.Kurang SosialisasiAntusiasme para napi untuk melakukan pencoblosan tidak berbanding lurus dengan pengetahuan mereka tentang tata cara mencoblos. Sebahagian pemilih di depan ruang tunggu TPS tampak bingung sambil saling berbisik satu sama lain tentang tata cara pencoblosan dan partai apa saja yang akan dicoblosnya.Alim (30) misalnya, salah seorang napi yang telah mendekan selama 3 tahun . Dia awalnya hanya paham dengan cara pencoblosan pada pemilu yang lalu-lalu. Untuk tata cara pencoblosan kartu suara yang sekarang, dia tidak paham benar. "Saya tahunya bahwa pemilih sekarang ada orang yang ikut dicoblos, tapi kalau aturan yang lebih lengkapnya saya tidak terlalu tahu," ujarnya jujur.Hal yang sama pula dialami oleh Rusli (31). Bedanya, dia cukup paham dengan tata cara pencoblosan, tapi dia bingung dengan partai yang terlalu banyak. "Saya hanya akan memilih DPD. Kalau partai, saya tidak terlalu tahu persis," ungkap napi yang divonis hukuman seumur hidup ini dalam kasus pembunuhan berencana.Pengetahuan para napi tentang tata cara mencoblos memang lebih banyak didapat lewat televisi dan koran yang memang disediakan untuk para napi di ruang berkumpul. Namun, tetap saja beberapa napi tidak paham dengan cara penccoblosan yang benar.
(nrl/)











































