Padahal sebelumnya Presiden AS Barack Obama telah memuji keberhasilan KTT tersebut."Hari ini kami telah membuat terobosan berarti dan tak terduga di Kopenhagen ini," kata Obama kepada wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (19/12/2009).
"Untuk pertama kali dalam sejarah, semua negara ekonomi besar telah bersatu untuk menerima tanggung jawab mereka dalam bertindak untuk menghadapi ancaman perubahan iklim," tegas Obama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ian Fry, delegasi dari Tuvalu, pulau kecil di Pasifik yang keberadaannya terancam oleh perubahan iklim, kesepakatan itu merupakan pengkhianatan.
"Sepertinya kami sedang ditawari 30 keping perak untuk mengkhianati rakyat dan masa depan kami," kata Fry.
Kesepakatan 'Copenhagen Accord' menetapkan komitmen untuk membatasi pemanasan global menjadi dua derajat Celcius, namun tidak menyebutkan landasan pijakan yang penting: target emisi global untuk 2020 atau 2050. (ita/ita)










































